Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIKSI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Februari 2013

Kita Menikah Saja


"Aku suka, kau suka. Kamu cinta, aku juga. Ya sudah kita menikah saja"
"Tapi kita berbeda keyakinan"
"Berbeda keyakinan? Maksudmu?"
"Kamu yakin jika kamu bisa diterima oleh keluargaku, tapi aku tidak yakin jika aku bisa diterima oleh keluargamu"
"Haiiih, tolong buang kata-katamu itu, yang terpenting kita saling mencinta. Bukankah kau tahu kekuatan cinta itu dahsyat? Cinta dapat memporak-porandakan kota, cinta dapat membuat yang waras jadi gila, cinta juga yang membuat Arok menamatkan hidup Tunggal Ametung. Dahsyat bukan??!
"Tapi tidakkah aku terlalu tinggi berharap? Engkau gadis cantik jelita, sedangkan aku hanya seekor tikus rumahan. Biar kupertegas, engkau manusia dan aku hewan!”

Jumat, 31 Agustus 2012

ANTU BANYU


Aku tinggal di sebuah dusun yang miskin dari sentuhan komoderenan. Masyarakat di dusunku adalah orang-orang yang dalam kepalanya banyak ditumbuhi pemikiran kolot. Sebagian besar masyarakat dusunku ini bekerja sebagai tukang gergaji mesin, nelayan, pengasap ikan, pengusaha kerupuk ikan rumahan dan berkebun. Ada juga yang bekerja sebagai pegawai negeri, namun itu cukup bisa dihitung dengan jari.  Namun jangan ditanya tentang rasa kekeluargaan, tolong menolong, kesetiakawanan, dan juga bela-membela saat ada tetangga atau familinya yang cekcok mulut di pasar, bisa dipastikan tiada banding, pastilah ereka akan membela mati-matian hingga titik darah penghabisan. Meskipun cekcok mulut itu hanya karena hal sepele.

Masyarakat  di dusunku terbiasa memulai kembali menyalakan nyawa dari tidurnya sejak matahari belum berani mengintip bumi. Asap-asap akan mengepul dan merayap ke atas genteng dapur rumah-rumah di sini, pertanda para ibu sudah mulai menyalakan kayu untuk memasak. Anak-anak merekapun sudah dilatih untuk bangun sebelum subuh sejak kecil.  Nanti saat suara adzan dimuntahkan dari toa surau, merekapun akan berbondong-bondong  ke surau untuk shalat subuh  berjama’ah.

Anak-anak gadis di dusunku juga sudah terampil betul mengurus pekerjaan rumah sejak usia mereka belum baligh, mulai dari memasak, menyapu, menyuci baju di Musi, dan segala jenis pekerjaan rumah tangga lainnya. Pendidikan mereka rata-rata hanya mencapai MTs, ada juga yang sampai Aliyah dan perguruan tinggi, namun tentu itu menjadi pemandangan langka di dusunku. Maka tak heran jika di dusunku banyak gadis yang sudah menikah sejak usia mereka masih sangat belia.

Sedangkan bujangnya sendiri memiliki pendidikan yang lumayan lebih beruntung, bujang-bujang di sini rata-rata sekolah sampai  bangku Aliyah. Setelah lulus, banyak dari mereka yang merantau ke pulau seberang untuk bekerja di PT ataupun menjadi kuli bangunan. Ada juga yang membantu pekerjaan orangtua mereka di dusun. Seperti aku, setelah lulus Aliyah setahun yang lalu, aku masih setia menetap di dusun, membantu orang tuaku berkebun dan  dan membantu Pak Haji Maksum mengajar anak-anak mengaji di surau. Selain itu alasan yang membuatku betah menetap di dusun ini adalah Midah, gadis pujaanku yang berambut ikal sebahu, bermata bulat dengan bola mata yang coklat.

Meskipun rajin sembahyang berjamaah di surau, namun masyarakat di dusunku masih banyak yang mempecayai mitos-mitos. Termasuk mitos tentang Antu Banyu, yang katanya berwujud perempuan  bertaring dan berambut panjang dan akan muncul di malam hari saat air Musi berwarna kecoklatan dan terasa hangat.  Antu banyu ini konon sangat menggemari ubun-ubun kepala dan sum-sum tulang belakang manusia, terutama ubun-ubun kepala bujang dan anak-anak kecil yang aqil baligh. Aku sendiri tidak terlalu percaya dengan mitos-mitos semacam itu. Namun Emak dan Ayukku adalah termasuk dari mereka yang sangat percaya tentang mitos Antu Banyu ini. Maka tidak heran kalau Emak akan sangat melarangku bermain di pinggir Musi  pada saat-saat tertentu yang disinyalir sebagai waktu keluarnya Antu Banyu dari sarangnya.

Ada kejadian yang akan selalu hidup dalam ingatan-ingatan masyarakat asli dusunku ini, kejadian ini terjadi saat aku masih SD. Saat itu dusunku digemparkan dengan hilangnya dua orang teman bermainku, Buyung dan Rustam. Mereka dikabarkan tidak pulang ke rumah sampai langit sudah memejam. Semua warga bergotong royong mencari Buyung dan Rustam sampai ke sudut-sudut kampung, kuburan dan rawa-rawa sambil membawa obor dan memukuli piring seng. Masyarakat dusunku percaya jika pukulan piring seng ini dapat memanggil kembali anak kecil yang sedang disembunyikan makhluk-makhluk halus. Sebagian warga yang lain ada yang mencari di sungai sambil menaiki getek dan membawa lampu patromak. Dikhawatirkan Buyung dan Rustam hanyut di Musi. Karena terakhir  kali ada yang melihat kedua bocah itu memanjat pohon kelapa di dekat Musi setelah pulang sekolah.

Dusunku mendadak ramai dengan kur warga yang memanggil-manggil nama Buyung dan Rustam.  Aku yang saat itu masih SD tidak ikut mencari keliling kampung ataupun ke Musi, aku hanya ikut Ibu dan Ayukku membaca yasin di surau bersama ibu-ibu dan anak kecil lainnya, berdoa agar Buyung dan Rustam segera ditemukan. Namun sampai rona fajar bergurat di pipi langitpun kedua bocah yang dikabarkan hilang itu tak kunjung muncul batang hidungnya. Sudah pasti warga menjadi semakin panik, kulihat Emak dari Buyung dan Rustampun menangis dan saling berpeluk menghawatirkan nasib anak-anak mereka. Kulirik mata Emakku juga sudah merah dan sebentar lagi pasti akan turun gerimis dari sana.
Warga kembali ke rumah mereka masing-masing. Aku yang saat itu tidak tidur semalaman izin tidak masuk sekolah. Sebagian warga juga banyak yang tidak beraktifitas, kecuali para pengasap ikan yang memang sudah dikejar pesanan.
Belum saja bedug dzuhur berbunyi, dusunku digemparkan oleh teriakan  warga yang menemukan sosok mayat mengapung di Musi. Semua warga berbondong-bondong menuju tepian sungai. Di sana kami melihat satu mayat anak seusiaku yang masih menggunakan seragam sekolah, tubuhnya sudah mengembung menjadi hampir dua kali lipat dari aslinya, mukanyapun sudah sulit dikenali, namun bisa dipastikan mayat yang ditemukan itu adalah salah satu dari bocah yang hilang kemarin. Orang tua Buyung dan Rustampun menangis histeris sambil berlari ke tepi Musi.

Melihat dari ciri-ciri yang ada, mayat bocah yang ditemukan itu lebih mirip Buyung, maka mayat itupun dibawa warga ke Rumah Mang Nandar, Orang tua Buyung. Alat-alat untuk mengurus jenazahpun sudah disiapkan di rumah Mang Nandar. Mulai dari kafan, gentong-gentong air untuk memandikan mayat, sampai dengan keranda mayat.
Namun kejadian menjadi semakin kalut saat mayat  mulai dimandikan. Ternyata mayat yang dimandikan itu bukanlah mayat Buyung seperti yang diperkirakan. Karena mayat yang dimandikan di rumah Mang nandar itu sudah disunat pada bagian kelaminnya, padahal semua warga tahu kalau Buyung belumlah sunat. Berarti mayat ini adalah mayat Rustam.  Maka setelah dimandikan, mayat bocah ini segera diantarkan ke Rumah orang tua Rustam untuk dikafankan, dishalatkan dan kemudian diberangkatkan ke pemakaman.

Sedangkan Buyung sendiri samapai aku sebesar ini tidak diketahui rimbanya. Entah masih hidup, ikut hanyut di sungai, diculik  ataupun apalah aku tak tahu. Namun warga di sini mempercayai kalau Buyung dimangsa Antu Banyu.
Sejak saat itu Emakku jadi lebih cerewet menasehatiku untuk tidak dekat-dekat dengan Musi. Namun yang aku heran dari kekhawatiran Emakku yang berlebihan ini adalah bagaimana mungkin aku bisa menghindari Musi, sedangkan dari pintu dapur rumahku saja coklatnya air Musi sudah bisa disantap mata. Ah dasar Emak.
***

Malam ini aku berencana menonton layar tancap di lapangan dekat Musi dengan Midah, gadis pujaanku itu. Kemarin salah seorang warga dusunku ada yang menikahkan anaknya  dan layar tancap inilah sebagai hiburannya. Sebenarnya Emak  sudah melarangku untuk menonton, sebab esok harinya aku harus bekerja keras membantu Bapak mencangkul di kebun untuk menanam tanaman yang baru. Tapi tak aku hiraukan larangan Emak.

Setelah Isya aku bersiap-siap menjemput Midah di rumahnya, aku menggunakan celana dasar hitam dan kemeja kotak-kotak merah, kemeja andalan keduaku setelah kemeja biru laut polos hadiah dari Midah.   Rumah Midah sendiri tidak begitu jauh jaraknya dari rumahku, kebetulan juga searah dengan lapangan tempat layar tancap berlangsung.
Saat kutemui Midah sudah menunggu di bawah pohon nangka depan rumahnya. Midah tampak cantik sekali dengan rok hitam semata kaki dan kaos abu-abu. Bibirnya sedikit dipoles gincu merah jambu. Badannyapun berbau wangi. Aku semakin senang memandang Midah dari dekat.  Kuperhatikan ada yang berbeda dari Midah, rambutnya kali ini lurus dan tidak lagi ikal, mungkin dia mengikuti gaya anak-anak kota yang pergi ke salon untuk meluruskan rambutnya. Apapun itu, memandang Midah yang selalu tersenyum adalah suatu hal yang selalu membuat jantungku bergemuruh.

Tak menunggu lama kamipun segera melangkahkan kaki menuju lapangan yang ternyata sudah ramai sekali. Banyak muda mudi dan juga orang tua  menyemuti tempat ini. Setelah membeli kacang rebus aku sengaja mencari tempat yang agak gelap dan sepi agar bisa lebih nyaman berdua-duaan dengan Midah. Akhirnya kami duduk di dekat Musi, kami duduk  pada potongan batang pohon kelapa yang sudah habis digergaji. Memang agak jauh dari layar ditancapkan, namun tempat ini kurasa pas untuk bisa dengan nyaman berdua-duaan dengan Midah.

Tak lama kemudian lampu layar menyala, pertanda film akan diputar. Biasanya yang sering diputar pada acara layar tancap di dusunkuku adalah film-film kolosal ataupun komedi. Meskipun sudah sering diputar hingga berkali-kali, masyarakat di dusunku masih saja tak bosan untuk menonton. Kali ini aku merasa sedikit aneh dan berbeda karena film yang diputar kali ini belum pernah aku tonton sebelumnya. Di  layar itu aku menyaksikan seorang bujang terapung di sungai tanpa ubun-ubun di kepalanya.Aku mengamati gambar bujang di layar itu lebih seksama.  Dan aku merasa semakin aneh saat melihat bujang itu memakai kemeja kotak-kotak berwarna merah persis seperti yang aku gunakan saat ini. Jantungku bergemuruh dahsyat, nafasku terasa sesak, denyut nadiku seolah hampir tandas  saat muka bujang itu terlihat semakin jelas. Muka bujang itu mirip sekali denganku. Ya, tak salah lagi itu memang aku!!  Bagaimana ini bisa terjadi? Kulirik Midah yang berada di sampingku, dia hanya tertawa menyeringai. Mengerikan sekali. Lebih-lebih sekarang aku melihat dua taring muncul dari mulut Midah dan siap menerkamku. Sejurus kemudian aku merasa jantungku tak lagi memompa oksigen.

Catatan:
[1] Ayuk: Panggilan kakak perempuan di daerah Sumatera Selatan.
[2] Musi: Nama sungai di Palembang.

Singosari, Malang, 2012

Selasa, 21 Februari 2012

Martabak Telur dan Semangkuk Bubur



Pagi ini aku membuatkanmu bubur ayam. Kutakar satu gelas beras, lalu memasaknya dalam teflon dengan air yang agak banyak. Tak lupa juga kububuhi sedikit garam dan merica bubuk. Aku sengaja tidak menggunakan santan, karena kamu lebih suka seperti ini. Oya, kamu juga tidak suka buburnya diberi daun bawang. Terasa langu katamu.

Sambil menunggu air buburnya menyusut, aku merebus beberapa potong ayam yang sudah dibumbui bawang putih, bawang merah juga garam, yang kemudian jika ayamnya sudah empuk, akan langsung kugoreng, kusuwir dan kutaburkan bersama bawang goreng ke atas bubur. Dan kaldu ayam ini yang akan menjadi kuahnya. Sesekali aku melongok ke arahmu yang sedang tidur di sofa depan tv, memastikan kamu baik-baik saja.

***

Saat akan membangunkanmu sebelum subuh tadi, aku dikejutkan oleh suhu badanmu yang panas. Sontak kurabai kening, pipi juga lehermu dengan punggung tanganku. Masya Allah, kamu demam. Buru-buru aku ke ruang tengah, menuju kotak obat lalu mengambil termometer kemudian menaruhnya di lipatan ketiakmu. Garis pada termometer itu mengarah hampir ke angka 38 derajat celcius. Aku langsung bergegas ke dapur, mengambil air dingin dan handuk kecil untuk mengompresmu.

Kemarin sore, setelah mengisi training kepenulisan, kamu memang pulang ke rumah dalam keadaan kuyup. Ternyata kamu nekat  menerobos hujan demi membelikan martabak telur kesukaanku. Dan kamu lihat hasilnya,  pagi ini kamu jadi demam tinggi.  Kalau kamu sakit biasanya cerewetku pasti akan keluar, “Sayang, tidak harus dengan menerobos hujan juga kan? Kamu juga tidak harus selalu membawakanku oleh-oleh setiap pulang dari manapun, karena kalau kamu sakit akulah perempuan yang paling nelangsa, hatiku juga pasti akan ikut meriang, dan bla bla bla”

Jika cerewetku keluar seperti itu, kamu hanya akan menanggapinya dengan tersenyum lalu menyilangkan telunjukmu di bibirku, seketika itu pula cerewetku langsung berhenti. Pada jeda berikutnya aku langsung meminta maaf karena telah cerewet kepadamu. Kamu hanya tersenyum lagi, “ Itu bukan cerewet namanya, tapi itu cinta Bunda” Katamu lembut. Jika sudah seperti itu aku akan menghambur ke pelukmu, dan malah menangis.

***

Aku kini duduk di sebelahmu dan kamu masih terlelap di atas sofa depan tv. Pelan pelan aku mengambil handuk kompres di keningmu yang sudah menjadi panas, kucelupkan lagi ke dalam air dingin, memerasnya dan menaruhnya kembali di keningmu, namun  kamu malah jadi terbangun.

Saat membuka mata dan melihatku ada di sampingmu, kamu langsung melemparkan senyum, aku segera membalas senyummu dan  menawarkan bubur yang kubuat tadi. Kamu menerima tawaranku, maka segera kuambil semangkuk lalu menyuapimu perlahan. Tak butuh waktu lama untuk menjadikan semangkuk bubur itu tandas.

Setelah itu kamu memilih meringkuk lagi di atas sofa dan meminta tidur di pangkuanku. Dengan senang hati kupersilahkan pahaku menggantikan bantalmu. Sayang, taukah kamu? Dalam tidurmu aku tak berhenti merapal doa untuk kesembuhanmu, Belahan jiwaku.

بِسْمِ اللهِ نَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ مِنْ شَرِّ كُلِّ عِرْقٍ نَعّاَرٍ وَمِنْ شَرِّ حَرِّ النّاَرِ

Dengan menyebut nama Allah, kami memohon perlindungan kepada Allah SWT, Yang maha agung dari peluh (keringat) yang mengganggu, dan dari panas nya api.

Senin, 20 Februari 2012

Ini Tentang Cara Kita saat Membangunkan Tidur





Ini tentang cara kita saat membangunkan tidur. Biasanya aku yang akan bangun lebih awal daripada kamu, tapi tak jarang juga kamu yang bangun terlebih dahulu daripada aku. Biasanya kamu sengaja bangun setelah tengah malam untuk menuangkan ide-idemu ke dalam tulisan, lalu mengirimkannya ke salah satu media keesokan harinya, hobi yang memang telah menemanimu jauh sebelum kamu memintaku menjadi belahan jiwamu dan aku menerimanya. Lalu beberapa menit menjelang subuh kamu akan membangunkanku, bersama-sama melaksanakan amalan yang memang kita niatkan untuk terus konsisten melakukannya setiap hari jika tidak ada halangan; tahajud dan tilawah bersama hingga adzan Subuh. Sebagai salah satu ikhtiar kita agar biduk rumah tangga yang kita jalani selalu berlimpah sakinah, mawaddah dan bertabur rahmah.

Seperti kali ini misalnya, setelah menyelesaikan tulisanmu, kamu membangunkanku lembut, mendekatkan bibirmu ke telingaku, membisikkanku sesuatu yang akan membuatku terbangun, namun kalau aku tetap juga tidak terbangun, biasanya kamu akan menggelitik atau menciumiku bertubi-tubi sampai aku terbangun. Kadang aku memang sengaja tidak membuka mata saat kamu berbisik membangunkanku, walaupun sebenarnya bisikanmu itu sudah bisa membangunkanku. Hihihi.. kamu jangan marah ya? Alasanku, karena aku menunggu untuk kamu cium.  

Aku juga punya cara untuk membangunkan tidurmu, biasanya setelah berwudlu aku akan menempelkan tanganku ke pipimu, dinginnya tanganku akan merambati pori-pori kulitmu dan memerintahkan syaraf untuk membuka matamu. Namun jika cara ini belum berhasil, kukeluarkan jurusku selanjutnya, yaitu  membuat secangkir hot chocolate dan mendekatkan aromanya ke hidungmu. Biasanya cara ini cukup ampuh, karena kamu memang penggemar hot chocolate. Tapi, jika cara ini juga belum berhasil, maka aku ikuti caramu membangunkanku, yaitu menggelitik atau menciumimu bertubi-tubi. Jika sudah begini, kamu tidak mungkin lagi melanjutkan lelapmu.

Oya, katamu dengan menempelkan tanganku ke pipimu setelah berwudhu atau mendekatkan aroma hot chocolate ke hidungmu, sebenarnya itu sudah bisa membangunkan tidurmu. Kamu memang sengaja bermanja-manja tidak mau bangun. Dan rupanya alasanmu sama juga dengan alasanku, yaitu karena kamu menunggu untuk aku cium. Hihihi..

Ah suamiku, aku mencintaimu, terimakasih telah bersedia membersamaiku, menjadi imam dalam shalat-shalat kehidupanku.

Jumat, 17 Februari 2012

Semoga Seterusnya Tetap Menyenangkan Seperti Ini






Seperti malam-malam biasanya,  sambil menjemput kantuk kita saling bercerita tentang apa yang kita alami masing-masing seharian tadi. Tentunya setelah melakukan ritual standart kita sebelum tidur; wudhu dan berdoa. Setelah itu kita merebahkan diri di atas tempat tidur dengan saling berhadapan, aku menghadap ke kanan dan kamu menghadap ke kiri, lalu setelah saling bercanda, kamu menceritakan hal-hal yang kamu alami seharian di kantor dan aku mendengarkan. Atau sebaliknya, aku yang bercerita tentang apa yang kualami bersama murid-murid Play Group- ku yang menggemaskan dan kamu yang akan mendengarkan.


Selalu saja, saat aku bercerita pandanganmu tak pernah bergeser se-centipun dari mataku. Matamu selalu saja mengejar ke manapun retinaku berlari. Kamu selalu memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama saat aku membagi cerita, lalu kamu akan terbahak-bahak jika aku  sedang menceritakan tingkah salah satu muridku yang lucu, atau kamu akan kuatir minta ampun jika aku menceritakan hal yang hampir saja membuatku cidera, tidak jarang juga tiba-tiba kamu menghentikan ceritaku sekedar untuk mengatakan “I love you” di sela-sela aku bercerita. Lalu akupun membalas ucapanmu “I love you too” atau sekedar kata “too” dan akupun kembali melanjutkan ceritaku. Hingga akhirnya kita sama-sama terlelap, aku kurang tahu aku yang tidur terlebih dulu ataupaun kamu, yang aku tahu saat aku terbangun sebelum subuh menjelang, tanganmu sedang melingkari tubuhku atau kepalaku yang berada di dadamu.

Namun jika kita sama-sama terlalu lelah, maka tidak ada cerita untuk malam itu, kita hanya akan saling mengucapkan selamat tidur dan kamu mengecup keningku, lalu seperti biasa kamu melingkarkan tanganmu ke tubuhku, tak lama kemudan menyusul suara dengkurmu. Saat itu aku hanya memandangimu yang sudah terlelap sambil membelai-belai rambutmu, atau sekedar menciumi tanganmu pelan-pelan agar tak membangunkamu.

Tapi dari malam-malam yang telah kita lewati bersama sejak pernikahan kita, kita lebih sering berbagicerita terlebih dahulu sebelum tidur dibandingkan langsung terlelap. Dan aku selalu suka ritual kita ini. Semua terasa menyenangkan sekali. Semoga seterusnya tetap menyenangkan seperti ini.


Sabtu, 21 Januari 2012

Aku, Kau dan Laki-laki kita



Mengapa memposisikkan diri seperti musuh? Padahal kita belum kenal, hanya tau sekedarnya. Kau mengetahuiku dari dia, dan aku mengetahuimu juga dari dia. Lalu kemudian kita saling menjadi mata-mata. Sama-sama merasa nyeri karena ternyata kita mencintai laki-laki yang sama.

Aku tak tahu siapa yang menjadi orang ketiga. Aku di antara kalian, atau kamu yang di antara kami. Yang jelas aku tak mau menyulam tawa di atas airmata siapapun, termasuk kamu. Iya kamu. Aku juga wanita, sama sepertimu. Sakit yang kamu rasakan, aku juga sedang merasakan.

Oya, saat ini aku sedang berusaha mengusap setiap airmataku yang masih menggenang juga hatiku yang berdarah-darah. Aku ingin menyudahi semuanya, jangan ada lagi air mata yang menetes. Baik air mataku, atau airmatamu.
Sini sini, kemarilah, biar kuusap airmatamu. Bisakah kita saling mengusap airmata??

Senin, 21 November 2011

DARI DULU BEGINILAH CINTA, BAHAGIANYA TIADA PERNAH BERAKHIR.

 
 
Ada yang melemparkan bom molotove ke hati saya. Ahh, Rasanya seperti dihujani ribuan bunga. Mawar, melati juga kenanga. Ada yang mau ikut menghujani bunga bank barangkali?? :D :D

Hmm.. Suara fales teman saya yang menyanyikan alamat palsunya Ayu ting ting mendadak merdu luar biasa. Mengalahkan Ike Nurjanah juga Evie Tamala. Dari dulu beginilah cinta, bahagianya tiada pernah berakhir.
Ini fiksi miniku, Mana fiksi minimu?? :)

APA KAMU TAHU? RINDU ITU BEGINI RASANYA




Apa kamu tahu?
Sekarang hampir setiap sore  di kotaku turun hujan. Ya sekarang memang sudah masuk musim penghujan. Seperti sekarang ini. Aku jadi terpaksa sering berteduh di halte kampus menunggu hujan reda, atau sedikit reda. Biasanya aku menunggu sambil mendengarkan beberapa lagu dari handphoneku.

Apa kamu tahu?
lagu apa yang sekarang sedang kudengarkan? Iya iya kamu benar. First Love-nya Utada Hikaru. Itu lagu kita berdua kan? Aku masih tetap menyukainya.hihi..

Hmmm.. apa kamu masih ingat saat pertama kali kamu menyanyikan  lagu untukku? Aku masih ingat. Dan tidak ingin melupakannya. Waktu itu kamu ingin menghiburku saat aku sedang suntuk karena kepayahan menemukan reliabelitas skripsiku. Lalu kamu menyanyikan lagu ciptaanmu dengan gitar akustik. Kamu tahu kalau aku suka sekali lagu yang dinyanyikan dengan cara  seperti itu. Sederhana tapi menyentuh. Dan akhirnya kamu sering melakukannya untukku. Aku suka.

Kamu juga sering memintaku bernyanyi, lalu kamu mengiringi dengan gitar. Aku malu sekali, karena suaraku pas-pasan. Tapi kamu hanya tersenyum, lalu berkata “ayo lanjutkan, aku suka apapun yang kamu nyanyikan” Lalu kita tertawa.

Dan sekarang, apa kamu tahu?
Tidak jauh dariku duduk seorang pemuda yang sedang memainkan gitarnya. Aku jadi teringat kamu. Dan itu membuat sedikit nyeri di sini. Ah, ternyata rindu itu begini rasanya.

Jumat, 18 November 2011

MESKI RAGA KITA DIBENTANGKAN JARAK, NAMUN JIWA BERPELUK-PELUK.



“Walau kita berada di tempat berbeda, tapi kita tetap memandang langit yang satu” Ujarmu menenagkanku sebelum kau pergi.

Namun apa kau tahu? Sebenarnya aku dapat melihat matamu yang menahan gerimis. Meski kau coba menutupinya dengan senyum terbaikmu.

“Heei, jangan menangis, Jagoan! Tenaglah, ini hanya sementara, mungkin hanya beberapa tahun saja.” Ujarku dalam hati, meski sebenarynya sekuat tenaga akupun menahan telaga yang hampir tumpah dari mata.

Kita memang selalu kompak, kali ini berusaha saling menenagkan, meredam ngilu yang mencungkil-cungkil hati.

***
“Di kotaku sedang turun hujan, Apa di kotamu juga??” Bunyi sms darimu yang baru kuterima.Ahh, Aku Tahu kau sedang riduiku.

”Sekarang coba hitung berapa tetes hujan di kotamu itu?, Sebanyak itu pulalah rinduku padamu” Kalimat ini sudah ada di layer handphoneku. Hendak kujadikan jawaban dari sms mu, tapi entah dari tadi kucoba mengirimkannya, namun selalu gagal. Aku pencet *388#. Haa aku baru tahu jawabannya.

Sabarlah, Jagoan!!, tunggu sampai Mikail memampirkan rizki dari Tuhannya untukku. Baru aku bisa menjawab sms mu. :) :)

KAU, AKUPUN DEMIKIAN.....





Dulu kerap kali, di sore hari kau mengajakku berkeliling kota, sekedar untuk merasakan suasana alam setelah hujan. Kau sangat tahu jika aku menyukai hujan, juga suasana setelahnya, katamu kaupun demikian

Lalu kita mampir ke kedai sate kesukaanmu, juga kesukaanku. Memesan dua porsi sate dan semangkuk gule yang kita makan bersama. Juga dua gelas jeruk hangat. Aku suka saat-saat itu, katamu kaupun demikian.

Sebelum menikmati satemu kau melepaskan daging sateku dari tusuknya, agar aku lebih mudah memakannya katamu. Akupun demikian, melakukan hal yang sama untukmu. Kita saling senyum, dengan guyuran bunga di dada.

Lalu kau menyendok acar dari piringku, karena kau tahu aku tak suka acar. Kau menambahi sambal berkali-kali ke satemu, kau memang suka pedas, akupun demikian

Aku terus memperhatikan apa yang kau lakukan, merekam setiap sepermili suaramu di telingaku, lalu menyimpannya dengan kualitas tertinggi di otakku. Sebab aku tahu, suatu hari aku akan merindukan saat-saat itu, katamu kaupun demikian.

Jumat, 04 November 2011

Jalan Kematian



[Cerpen lama yang lupa diunggah]


Terdengar ketukan sepatu dari gegas langkah yang terasa memburu. Sejurus  kemudian  pintu dibuka, muncul seorang perawat dan laki-laki manis berpawakan tegap, keringat sebesar biji jagung menyembul dari dahinya. Raut kecemasan menghiasi  wajahnya. Dia Mas Hendra, laki-laki yang telah dua tahun mendampingi hidup saya, mengarungi suka dan duka dalam biduk yang bernama rumah tangga.

“Masya Allah, bunda..” suaranya mengagntung. Digenggamnya lembut tangan saya yang pasi. Ada telaga yang dipaksa untuk tidak keluar dari matanya.
“Calon bayi kita, yah” suara saya bergetar. “Maafkan bunda tidak bias menjaganya” ucap saya terbata-bata. Cairan bening menetes satu-satu dari mata saya.
“Sabar bunda, semua sudah ada yang mengatur. Kita berusaha mengikhlaskan  ya, Bund.” Ucapnya lembut. “Yang terpenting lain kali harus hati-hati” timpalnya lagi. Suaranya terdengar tabah, ditatapnya saya dengan tatapan meneduhkan,  seolah ingin mengantarkan berjuta energi yang menguatkan. Padahal saya tahu iapun remuk harus menerima kenyataan bahwa  impian untuk segera menimang buah hati  harus pupus.
“Tapi ayah kan sudah sangat….” ucapsaya terputus. Telunjuk mas Hendra menyilang di bibir saya
“Ssssstt….. Kita ikhlaskan ya, bund” tenagnya berkali-kali sambil menyeka air mata saya.

            Tadi pagi saat akan berangkat ke SLB tempat saya mengajar, motor saya tertabrak pengendara motor lain yang berniat menghindari lubang pada ruas jalan. Akibatnya saya terpelanting menabrak trotoar dan mengalami pendarahan. Warga yang berkerumun segera melarikan saya ke rumah sakit.

            Saya menyesal tidak mengindahkan pesan Mas Hendra untuk berangkat ke sekolah lewat jalur dalam yang walaupun membutuhkan waktu setengah jam lebih lama namun kondisi jalannya lumayan mulus.  Saya malah memilih lewat jalur kota yang kondisi jalannya  sekarang banyak berlubang. Menghemat waktu alasan saya.  Sekarang kalau sudah begini saya hanya bias menangis. Seperti menelan ribuan pil pahit rasanya.

            Masih segar dalam ingatan saya, sembilan minggu yang lalu saat bidan yang memeriksa saya mengatakan kalau saya hamil, kalimat syukur langsung meluncur dari bibir kami berdua. Mas Hendra sangat bahagia, aku dapat melihat dari sorot matanya. Ada bintang gemintang bertabur di sana .

            Esoknya, sepulang dari BMT tempatnya bekerja, ia menghadiahiku berbagai buku tentang merawat kehamilan dan bayi. Diantaranya: Pintar Mengasuh Batita karangan dr. Suririnah; Panduan Pintar Hamil dan Melahirkan, karangan Dewi Cendika ZR; Tetap bugar dan Energik Saat Hamil, karangan Ova Emilia; Panduan Lengkap Merawat Kehamilan, karangan Wendy Rose Neil dan Kehamilan Hari demi Hari karangan Stuart Compbell. Hari itu juga, buku Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan, karangan Wendy Rose Neil yang berjumlah 208 halaman itu tandas saya baca.

            Kami juga berencana melakukan hypno birthing,  yaitu salah satu teknik untuk mengurangi kecemasan berlebihan pada ibu hamil.  Teknik ini digagas oleh dr. Frans Anton Mesmar, seorang dokter berkebangsaan Australia .  Di Indonesia sendiri, teknik hypno birthing ini dipopulerkan oleh Lanny Kuswandy, seorang bidan yang mendalami ilmu clinical hypnoterapi di Australia.

            Tak ketinggalan kami berdua juga sudah mencari nama untuk buah hati kami. Buah hati yang telah dua tahun kami nanti tangisnya menggema di rumah kami yang belum lunas cicilannya.
            Sesak dada saya mengingat hal itu. Saya benamkan kepala saya di dada Mas Hendra. Airmata saya kembali menetes. Kali ini makin deras.

***

“Bunda jangan banyak aktivitas dulu ya” peasan Mas Hendra di sela-sela sarapan.
“tapi sebetulnya bunda sudah merasa baikan lo, yah. Bunda juga sudah kangen sekali dengan murid-murid di sekolah” protes saya.
“iya, tapi pesan dokter bunda masih perlu istirahat beberapa hari lagi, luka bunda juga masih ada yang belum kering kan ?” ucapnya hati-hati.
“lagi pula pihak sekolah kan masih memberi izin sampai minggu depan. Lanjutnya.
Aku  terdiam lama. Memajukan bibirku.
“Lo.. kok cemberrut  gitu? Ayah mengerti perasaan Bunda yang nggak betah kalau nggak kerja” kata Mas Hendra memahami saya.
“Tapi ini semua demi kebaikan kita bersama, bunda. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan bunda, ayahlah orang yang paling sedih dan bertanggungjawab.” Ujar Mas Hendra lembut. Keteduhan matanya meredakan penolakan yang disuarakan hati saya.
Manyun di bibir saya  berganti menjadi senyum simetris. Saya rangkul tubuhnya. Hangat.

***


            Sudah empat hari saya berhibernasi di rumah. Bosan sekali rasanya. Terlebih saat Mas Hedra bekerja. Pekerjaannya sebagai ketua cabang BMT membuatnya harus stand by di kantor dari pukul 08:00  sampai pukul 15:00.

            Saya menghempaskan tubuh saya ke sofa. Menarik nafas panjang. Clingak clinguk kemudian menyambar remote televise di samping saya. Saya tekan tombol  power.  Acara gosip selebriti. Kembali saya pencet-pencet tombol remote, mencari acara yang menarik. Berita siang kali ini menjadi pilihan saya. Mimiik saya berubah srius saat menonton berita tentang seorang wanita  paruh baya dan anak perempuan yang tertabrak puso.  Mereka berdua diduga terjatuh dari motor karena tidak sempat mengindari lubang jalan yang agak dalam, naas puso di belakang mereka tidak kuasa menginjak rem dan menabrak mereka berdua yang ternyata adalah ibu dan anak. Keduanya tewas di tempat. Rusaknya jalan raya menimbulkan korban lagi hari ini. Ini baru berita yang kebetulan saya tahu, mungkin di tempat lain juga ada hal serupa yang tak sempat terliput media.

Mata saya makin membulat manakala mengetahut identitas korban. Wanita paruh baya itu adalah Ibu Maryana dan anak perempuan yang bersamanya adalah Loleeta, gadis berusia tigabelas tahun yang merupakan salah satu murid saya di SLB.

            Nafas saya memburu, gemetar tangan saya merogoh saku, mencari handphone. Memastikan kebenaran apa yang saya saksikan di televisi dengan menghubungi teman sekantor saya. Saya tidak kuasa menahan airmata saat suara di ujung telpon membenarkan berita tersebut. Hati saya gerimis. Miris.

***

“Bunda pengen kayak Dzhennet Abdurakhmanova deh, yah. Lantur saya sore itu.
Mas hendra menoleh kea rah saya sambil mengkrenyitkan alisnya lalu kembali asik dengan laptopnya,  menjelajah dunia maya.
“Iya, Dzhennet Abdurakhmanova. Itu loh yah janda dari Umalat Mago Medov, berusia  17  tahun asal Dagestan, Kaukasus Utara yang melakukan bom bunuh diri di kereta metro di Moskow.” Ujar saya berapi-api.
“Kabarnay si Dzhannet ini anggota dari black widow, black widow sendiri adalah sebutan untuk janda-janda pejuang Checnya yang suaminya tewas dalam perang Checnya melawan Rusia. Nah.. bunda pengen ikut-ikutan kayah Si Dzhennet Abdurakhmanova ini, Cuma bukan di kereta  tapi di gedung DPR” cerocos saya tanpa henti.
“Ngomong apa to, bun. Apa hubungannya sama gedug DPR? Mbok nyebut gitu lo, ”Kali ini Mas Hendra menatap saya utuh dan mengalihkan laptopnya.
“Habisnya Bunda sebel deh sama pemerintah kita, banyak jalan yang berlubang bukannya dibetuli malah sibuk plesiran ke luar negeri dan mau bikin gedung DPR baru” ucap saya asal.
“Bunda.. bunda..” jawabnya sambil tersenyum.
“Idiiih kok malah senyum gitu sih, Yah?” balas saya kesal.
“Bunda sih ngomongnya jadi ngelantur, Gini lo Bund, sebetulnya pemerintah kita itu sudah mengalokasikan dana untuk perbaikan jalan-jalan yang rusak, hanya saja bila dilihat dari hasil yang sudah-sudah, apa yang dibuat itu tidak sebanding dengan besarnya dana yang dialokasikan. Banyak faktor yang menyebabkan semua itu, diantaranya ada tangan-tangan jahil yang ingin meraup keuntungan dengan jalan yang kotor. Makanya sering kita jumpai jalan yang baru beberapa bulan diperbaiki sudah rusak lagi” Jelasnya. Saya hanya manggut-manggut. “Menurut Ayah, dipandang dari  sudut manapun melakukan aksi bom bunuh diri itu adalah salah. Karna dapat melukai bahkan menghilangkan nyawa orang lain. Dan bla  bla bla bla…” Jelasnya panjang lebar. Saya yang dijelaskan sudah pulas dalam dengkur panjang.

***

            Tanpa izin suami hari ini saya akan menemui teman-teman yang sudah saya kenal beberapa waktu lalu. Sesampainya di sana kami berdiskusi sebentar, mematangkan rencana besar yang sudah kami gagas dan sangat rahasia. Setelah diskusi selesai saya didandani dengan seragam cleaning servis untuk memuluskan rencana kami. Kemudian dengan taksi saya diantarkan menuju gedung yang ditargetkan. Saya memasuki gedung itu dengan pasti. Rangkaian bom rapih melilit tubuh saya. Saya lirik arloji di tangan saya, hadiah ulang tahun pernikahan dari Mas Hendra.

Pukul 08: 50. berarti waktu tinggal 10 menit lagi. yang ada dalam pikiran saya saat itu hanya hilangnya janin saya dan murid saya Loleeta bersama ibunya yang harus tamat riwayatnya karna kerja pemerintah yang tidak serius membenahi jalan.

Banyak pria berjas rapi lalu lalang di depan saya. Dengan membawa alat pembersih saya sedikit merapat ke arah mereka berkerumun. Jantung saya terasa lebih cepat melajunya. Tepat pukul 09:00 ledakan dahsyat terdengar memekakkan telinga. Asap mengepul memenuhi ruang yang sudah tidak karuan bentuknya. Sempat saya dengar suara panik dan jeritan puluhan orang. Dan tiba tiba saja senyum Mas Hendra hadir, senyum yang akan selalu kurindui. Seketika hawa dingin langsung menyergapi pori-pori pipi saya.

“Bunda, bangun yuk,  ” Suara Mas Hendra lembut, tangannya yang dingin habis berwudhu ditempelkan ke pipi saya.
“Bunda, Sudah hampir subuh lo”  Ujarnya lagi.
Saya mengucek-ngucek mata yang masih susah melek. Saya lempar pandangan saya ke sekeliling. Loh inikan kamar tidur saya, gumam hati saya sambil kebingungan.
Dan laki-laki di depan saya yang agak mirip Agus Harimurti Yudhoyono ini kan Mas hendra, Suami saya. Terus suara bom tadi? Batin saya makin bingung.
Saya mengucek mata sekalil lagi. melirik-lirik kanan dan kiri. Oalah ternyata tadi itu cuma mimpi, gumam saya dalam hati. Saya mesem-mesem sendiri. Mas Hendra mungkin terheran melihat keanehan istrinya yang kata tetangga-tetangga dan tukang jamu keliling agak mirip Kadek Dewi. *Ngeeeeeeeeeeeek. :D

            Ternyata obrolan saya kemarin sore dengan Mas Hendra sampai kebawa dalam mimpi. Tapi untung cuma mimpi. Jangan sampai janya nyata deh. Karna saya setuju sekali apa yang dikatakan Mas Hendra bahwa dipandang dari  sudut manapun melakukan aksi bom bunuh diri itu adalah salah. Karna dapat melukai bahkan menghilangkan nyawa orang lain. Tapi tetap saja, saya masih jengkel kalau jalan yang masih berlubang itu masih tetap lebar menganga. Saya sangat berharap jalan-jalan yang berlubang itu segera diperbaiki, sehingga tidak menjadi jalan yang menyebabkan kematian karna banyak korban yang berjatuhan. Semoga semilir angin sore ini dapat mengantarkan harapan saya pada mereka yang memiliki kuasa. Semoga!

Jumat, 21 Oktober 2011

Stasiun Kota Baru yang Mendadak Merah Jambu




Salah satu rahasia Maha Agung Sang Pencipta selain hidup dan mati adalah jodoh. Siapa sih manusia di dunia ini yang bisa tahu dengan siapa kelak dia akan berjodoh?  Saya rasa tetap tidak akan ada seorangpun yang bisa mengankangi misteri milik Tuhan yang satu itu. Termasuk juga para peramal, apapun jenis ramalannya. Entah itu peramal Aeromancy, Botamancy, Bumpology, Catoptromancy, Ceraunoscopy, Genethlialogy, Haruspication, Hydromancy, I Ching, Lecanomancy , Margaritomancy, Metoposcopy, Oculomancy, Sortilege, sampai jenis ramalan Demonomancy sekalipun. Karena apapun alasannya aku tetap percaya bahwa sebelum kulit ari ini tercipta, Tuhan telah menetapkan rahasia-rahasia Agung bagi hidup setiap manusia,  termasuk di dalamnya tentang jodoh yang  harus aku yakini sebagai aplikasi sebuah keimanan seorang hamba terhadap rukun iman yang ke-enam.

 Sejak dulu hingga umurku yang sekarang ini, yang mungkin menurut orang di kampungku sudah tidak muda lagi, karena teman-teman SD sebayaku rata-rata sudah menikah bahkan ada yang sudah memiliki anak,  belum pernah sekalipun aku menjalani masa-masa yang teman-temanku bilang bernama pacaran. Dulu saat SMP, ketika teman teman perempuanku mulai surat-suratan kepada lawan jenis, yang membuat mereka kadang senyum-senyum sendiri bahkan jadi tak konsen belajar, aku hanya mampu  jadi pengamat. Lalu setelah lulus SMP, orangtuaku memasukkanku ke pesantren yang sudah pasti interaksi dengan lawan jenis akan sangat dibatasi. Jangankan kamar tidur dan kamar mandi, bahkan dapur umum, kantin, kelas,  hingga jadwal keluar pesantren antara santriwan dan santriwatipun akan dibedakan.
 Antara asrama santriwan dan santriwati juga dibatasi dengan pagar tinggi, tebal dan sangat kokoh. Belum lagi akan ada mata-mata yang biasa kami sebut dengan istilah  jasus yang akan mengawasi tingkah laku semua santri. Mulai dari shalat berjamaah di masjid, mengaji,  penggunaan bahasa wajib yang memang hanya diperbolehkan menggunakan bahasa Arab dan Inggris, kebersihan lingkungan juga badan, termasuk berapa kali mandi dalam sehari, apalagi tentang interaksi antara lawan jenis, pasti akan mendapat pengawasan yang ekstra ketat. Bisa dibayangkan betapa terkekangnya hidupku bukan? What, terkekang??? No! It’s wrong. I'm very happy you know. Aku sangat bahagia dengan hidupku ini. Sungguh! Aku sangat bahagia dengan kehidupan pesantren beserta segala bentuk aturan-aturannya.

Jika ada yang bertanya apakah aku pernah jatuh cinta? Tentunya pernah. Diam-diam aku pernah menyukai teman sekampusku waktu di semester enam dulu. Orangnya cerdas, manis, sopan, bersahaja, dan tidak neko-neko. Namanya Galih. Secara diam-diam pula aku memperhatikan aktivitas-aktivitasnya dan juga tempat-tempat yang biasa dia singgahi. Dari situ aku tahu bahwa dia sangat hobi membaca. Dari perhatianku yang secara diam-diam itu pula aku merasa sudah sangat mengenalnya,  dan lama-lama muncul efek seperti ada rasa gelisah jika sehari tak melihatnya, jika hal itu terjadi maka segera saja aku menaiki lift menuju lantai tiga perpustakaan, lalu kubebaskan retinaku menelusuri kursi baca paling pojok, di baris kedua sebelah kanan pintu masuk yang berdekatan langsung dengan AC. Maka akan kutemukan dia yang sedang asyik melahap buku-buku bacaannya.

            Karena dialah aku jadi ikut-ikutan betah berlama-lama di perpustakaan kampus. Sering dengan sengaja kucari tempat duduk yang paling strategis saat membaca di pepustakaan agar dapat memandangnya sewaktu-waktu tanpa dia mengetahui. Hingga suatu hari akhirnya dia menyapaku, akhirnya kami berkenalan lalu saling bertukar nomor handphone. Jangan ditanya bagaimana perasaanku saat itu. Jika diibaratkan, mungkin rasanya seperti orang yang terbebas dari penyakit TBC menahun. Hehe..

            Peristiwa bertukar nomor handphone dulu itulah yang merupakan momentum paling keramat dalam sejarah merah jambuku. Karena sejak saat itu, kami jadi sering berinteraksi dan diskusi tentang banyak hal. Termasuk juga pada akhirnya tentang urusan hati. Kami jadi bisa menyelami hati masing-masing. Juga mendadak menjadi saling ketergantungan dan butuh perhatian. Mulailah kami menjadi sering jalan berdua, mengunjungi tempat tempat bacaan berdua, memburu buku-buku murah berdua, sampai berniat ingin menyatukan mimpi-mimpi yang kami miliki dalam satu ikatan pernikahan. Eiiits.. tunggu dulu, sampai sejauh ini tidak pernah sekalipun kami bersentuhan fisik, walaupun sekedar bersalaman. Hingga akhirnya waktu membawa kami pada detik-detik terakhir status kami tamat sebagai mahasiswa di kampus ini. 

            Setelah lulus strata satu, kami berniat melanjutkan studi ke program magister. Bedanya dia memilih melanjutkan S2 nya di Jakarta, sedangkan aku memilih melanjutkan S2 ku di kota apel, Malang. Di bulan-bulan pertama tinggal saling berjauhan merupakan saat-saat yang sangat sulit dilalui. Rasa rindu yang menggebu seolah telah mematikan rasa lapar yang menghuni lambung lambung kami, sebab kami rela menghabiskan rupiah demi rupiah uang jajan kami hanya untuk bisa melepas rindu di telpon.

            Dan hari ini, setelah hampir tujuh bulan bentangan geografis mengukir garis garis rindu di hati kami, akhirnya takdir juga yang akan mempertemukan kami kembali. Dia akan datang menemuiku. Kemarin siang dia berangkat dengan kereta Gajayana dari stasinu Gambir menuju Malang. Dan pagi ini aku sibuk mempersiapkan diri menjemputnya di stasiun Kota Baru, Malang. Bahagia sekali rasanya. Jantungku tak henti berdebar menanti kedatangannya. Rasa penasaran semakin menambah debar jantung yang tak kuasa kuhentikan. Bagaimana penampilannya sekarang? Apakah ada yang berubah dari dirinya setelah tujuh bulan tak berjumpa ? Ah, tak sabar sekali aku jadinya.

            Setelah berpamitan dengan ibu kost, segera kustater motorku keluar garasi. Namun baru saja keluar  dari gerbang kostku, tiba-tiba mobil pick up melaju kencang dari perempatan jalan dan nyaris menabrakku. Untung saja aku dapat segera menghindar walaupun sempat terjatuh dan badanku terasa sakit sekali. Ingin sekali kumaki pengemudi ugal-ugalan itu, namun rindu ini membuatku tak menghiraukannya. Tak sabar lagi, segera kutancap gas menjemput rinduku yang sudah menunggu di Stasiun Kota Baru yang mendadak jadi merah jambu.

            Di kursi tunggu, duduklah seorang laki-laki yang sangat ku kenal. Tak ada yang berubah satupun darinya kecuali raut wajahnya yang tak segar seperti dulu. Segera kuhampiri dan kusapa, namun kenapa dia tak menghiraukanku. Dia malah buru-buru pergi dengan laki-laki paruh baya yang tak lain adalah bapak Kostku. Hampir habis suaraku ini memanggilnya. Namun dia terus saja berlari dan buru-buru pergi dengan motor bapak kostku. Kustater motorku mengejarnya. Air mataku jatuh satu-satu menyaksikan keacuhannya.

            Kulihat motor yang dinaikiya melewati ruas-ruas jalan menuju kostku. Dan benar, dia belok ke gerbang kostku. Segera kupercepat laju motorku menyusulnya. Hei, Kenapa kostku jadi ramai sekali? Kenapa juga Galih menagis di depan perempuan pucat yang sedang berbaring ditutup kain panjang? Siapa perempuan yang membuat Galih  sesenggukan begitu. Kudekati perlahan, dan betapa terkejutnya karena perempuan pucat yang ditutup kain panjang itu ternyata adalah aku.

Selasa, 20 September 2011

Menggurau Gerimis



Duduk, menunggu, memperhatikan dalam diam pada semangkuk canda tawa di depan sana
Sendiri, menimang-nimang hati , agar tak mengering bahkan mengerang.
Tak ingin beranjak. Demi melepas kepergian.
Namun diammu seperti menggali lubang dangkal untuk mengubur hati yang mengabar.
Mengapa kau biarkan aku  bergurau dengan gerimis, mengigau terbelenggu dalam tangis.
Tidak, ini hanya mimpi. Menjadi dongeng esok hari.



(in memorium 1 juli 2011, Jumat yang bermuram durja)

Selasa, 21 Juni 2011

Epilogue Layang-layang

Layang-layangku tak lagi membumbung tinggi,
mengangkasa menjamah awan yang semakin jingga,
mengecupi segerombolan pipit mengilani cakrawala,
menarung bayu yang menamparinya dengan berjuta tawa.

Layang layangku tak lagi membumbung tinggi,
senarnya telah dicuri sekeping hati,
dipasangkanya pada gitar tua yang memberinya arti,
menjadi dawai-dawai yang meluruhi getaran denyut nadi,
karena dengan itu dia dapat terus menyanyikan lagu mimpi.

Midnite, 200611

#bernyanyilah! Temukan nada-nada baru yang menjanjikanmu tawa. Biar aku di sini membasuh perih, perih dari luka belati yg kuhujam sendiri#