Powered By Blogger

Selasa, 24 September 2013

Muasal dari Segala Kepergian




Sejak abad-abad jauh yang tak butuh hitungan,
datang adalah muasal dari segala kepergian.
Lalu, sunyi  adalah muara dari segala kesedihan.

Pernah kita memahat kenangan, dalam tiap tapak-tapak jalan, pada sawah dan ladang-ladang, pada bunga-bunga  kopi yang wangi,  pada rupa yang datang dan pergi bergantian, yang banyak mengajarkan silsilah kehilangan.

Satu tanya yang tersembunyi dalam sunyi-sunyi yang kunaungi. Perihal alasan engkau membakar ribuan peta, hingga kesedihan tidak pernah tahu bagaimana seharusnya menapaki jalan, menuju mukim di rahim-rahim kebahagiaan

Dimataku nanti akan tumbuh lubuk. Dengan ratusan ikan yang tak pandai berenang. Tersebab engkau lupa menitipkan sirip dan insang.

Nanti engkau paham, air mata mampu lebih banyak berkata-kata,  sunyi dan puisi menjadi lebih nyata dari  segala yang aku rasa.

Mimpi yang Lelah Berkelana



Apalagi yang bisa dilakukan gadis yang merindukan pujaan
Selain lelap yang digadai dalam doa-doa malam
Atau menanam sungai di pipi dengan aliran airmata yang  memecah bebatuan

Tak ada lagi yang kita tunggu
selain restu terseduh dari hati para tetua dengan ikhlas penuh
Sedang semua rasa dalam dada tak henti-henti bergemuruh
Tentang  penyamudraan hati yang ingin  segera berlabuh
Memuarakannya dalam ijab qabul utuh

Katamu, kita akan membangun cita cinta
Dari mimpi-mimpi yang lelah berkelana
Pada malam-malam pekat miskin cahaya

Telah tua asa kita langitkan
Terbang jauh, payah menemukan tepian; adalah kepedihan.
Seperti burung-burung kecil dianiaya kehausan
Lelah hampir  jatuh dari dahan-dahan harapan

Kabarkan kedatangan, Kakanda
Bersama aroma Singkarak yang harum
diteruskan siut angin yang tak henti tersenyum
hingga penantian lebur dalam syukur yang terlantun

Negeri Pesisir









Dapatkah kau dengar bingar nyanyian, Tuan?
Melubangi telinga Tuan yang renta
Tentang mereka yang  menabung lapar di lambung
Berbaju lusuh dan berpeluh
Mengepal lelah hingga tumit pecah dan terbelah

Juga tentang mereka yang lain
bergincu dan minum susu
wangi dan berbaju rapi
Plesir ke negeri paling pesisir

Luka paling menganga




Tak ada luka paling menganga
selain kesedihan gadis yang ditinggalkan pujaan
hidup serupa neraka
menjejak seperti mayat berjalan
hari-hari berkidung lara
air mata beku  menjadi  kesakitan
itulah guna iman tertancap di dada
agar tak salah langkah dan tujuan

Bumi Kinanah











Tentang Bumi Kinanah
yang menyungai darah
Bertambah bilangan  yatim dan piatu
sebab hujaman peluru-peluru

Misr al-Ghaliyah, Allah jamin dalam Quran-Nya
“Udhuluu Misra Insha Allahu Aminin”

Yaa Misr al Ardhil Kinanah
Yaa Misr al ‘Azhimah
Yaa Misr al Rahinah
Yaa Misr al Majidah
Yaa Misr al Hazinah


Tak ada yang mampu kubuat
Selain menjadi anak panah
Melalui doa resah dalam hamparan sajadah
Padamu,  jasad-jasad yang telah rebah
Tuhanmu  Maha adil dan pemurah
Akan ada pertanggungjawaban
Atas kejinya sebuah kezaliman.