Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label HAMASAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HAMASAH. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Juli 2014

Untuk Saudaraku yang Menanti Datangnya Jodoh


Untuk saudaraku yang menanti datangnya jodoh...
Dalam masa penantian datangnya jodoh impian, mungkin menciptakkan keresahan tersendiri bagi sebagian orang yang menanti  berkepanjangan. Terlebih saat melihat rekan sebaya sudah melenggang bahagia ke pelaminan. Namun saat pujaan hati yang kita nanti-nanti tak jua menghampiri, apakah kita harus meratapi? Atau menggadaikan keceriaan yang kita miliki dan berkecil hati? Duhai saudaraku, sejatinya tidak perlu semua itu. Tetaplah ikhtiar dan doa sebagai pelipur hati yang (mungkin)  pilu.

Jika ikhtiar dan doa sudah dilakukan, namun yang diharapkan tak jua terkabulkan, jangan berburuk sangka dan buru-buru mengambil kesimpulan, mari musabahah diri, sudahkah ikhtiar dan doa kita upayakan hingga batas tawakal menghampiri? Setelah itu tanyakan lagi pada hati, sudahkan kita tawakalkan semua pada-Nya? Mempercayakan semua pada Allah yang Kasihnya tak terperi? Jika belum, serahkan semua pada Ilahi Rabbi.. semoga damai seketika mengguyuri hati.

Untuk saudaraku yang menanti datangnya jodoh...
Mari minta pada-Nya dengan sabar dan shalat. Dengan setulus-tulus doa yang kita eja di sepertiga malam yang senyap. Dalam bentangan sajadah. Dengan air mata dan linangan gerimis jiwa

Untuk saudaraku yang menanti datangnya jodoh...
Ia  Maha Tahu kapan waktu yang  paling tepat.  Ia juga yang Maha Mengerti siapa yang terbaik untuk diri. Tak perlu kita risaukan dengan segala yang terlihat gemerlap. Bisa jadi yang tampak indah di mata manusia, justru itu yang menjadikan  Allah murka.

Jangan  tertipu dengan bungkusan. Bisa jadi yang memesona di mata, justru ia yang kumuh di hadapan Rabb-Nya. Bisa jadi pula, ia yang terlihat sangat biasa, namun ternyata dialah manusia yang tertanam ketakwaan di halaman hati dan lakunya. Allah lebih tau sebenar-benar isi hati. Ia yang lebih mengerti apa-apa yang tersembunyi.

Untuk saudaraku yang menanti datangnya jodoh...
Seperti halnya rizki, jodoh itu min haitsu laa yahtasib, datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Bisa saja orang yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak, ternyata ialah manusia terbaik yang Allah kirim untuk membersamai kita beribadah pada Allah dalam bingkai sunah Rasul-Nya. Bisa pula jodoh kita sebetulnya ada dekat sekali dengan kita, bernafas dalam satu kota yang sama, dalam satu kantor yang sama, dalam satu lingkup yang sama, atau teman bermain di masa kecil. Hanya saja, kita tidak mau membuka hati, tersebab mempunyai kriteria tinggi dalam mematok sang pujaan hati? Hingga sampai saat ini kita masih setia menyendiri.

Duhai saudaraku.. Bukan harta dan paras yang menjadi parameter utama dalam memilih pasangan. Sebab harta dan paras kadang melenakan dari kewajiban kita sebagai hamba Tuhan. Jadikan Agama dan kesadaran untuk selalu berusaha memperbaiki diri sebagai  kriteria menentukan pilihan.

Duhai saudari-saudariku yang shalihaat...
Mari selalu memperbaiki niat dan perilaku, agar lelaki shalih yang kelak datang padamu, yang mencintaimu setulus hati dan tak pernah jemu.

Duhai  saudara-saudaraku yang shalihiin..
Shalihkan dirimu agar kau terlihat gagah. Jangan pula malas mencari nafkah. Agar calon mertua menyerahkan anak gadis mereka dengan ikhlas dan tanpa rasa resah. Jika sudah, jemputlah gadis shalihahmu dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah.

Sebuah catatan kecil satu bulan menjelang pernikahan
Lampung, 12 Juli 2014

Senin, 28 Oktober 2013

Jaga Bahagiamu! :)


*Sebetulnya kamu bisa untuk bangkit dari keterpurukan dan menjumpai bahagia di masa depan, hanya, mungkin saja kamu lebih suka (berlama-lama) terkubang dalam kesakitan. --Wang Shabara Zhafira.
 

*Mengapa matamu sembab? Menangisi dia lagi? Sudah hentikan, kasihani hatimu. Tak usah menghiraukan dia yang tak menghiraukanmu. Tak usah pertahankan dia yang bersikeras meninggalkanmu. Karena dia punya satu alasan untuk tak lagi membersamaimu. Tapi percayalah, Allah pasti punya beribu alasan mengapa ia tak layak menjadi bagian dari masa depanmu!!!--Wang Shabara Zhafira.

*Untuk apa kamu memikirkan si dia secara berlebihan? Membelikan sesuatu untuknya dengan memotong uang jajan, atau merubah dirimu menjadi seperti yang dia harapkan, sampai-sampai menjadikan perhatianmu kepada Ayah Ibu berkurang. Demi cinta? Aiiih, yakin dia juga mencintaimu? Seandainya iyapun, adaka jaminan jika si dia mau melakukan hal serupa untukmu? Sudah, balaslah cinta yang pasti-pasti saja, seperti cinta Allah misalnya. Atau cintanya orang tua kita, manusia berhati malaikat yang kasihnya selalu terukir, yang cinta terus membanjir meski langit jatuh pada hari terakhir--Wang Shabara Zhafira.

 *Tak perlu kau poles bungkusmu untuk tampil seperti dia. Jadilah dirimu sendiri, apa adanya kamu. Karena sekeras apapun usahamu untuk menirunya, tak akan pernah sekalipun kau menjadi dia, dan kaupun tak akan menjadi dirimu sendiri. --Wang Shabara Zhafira.
Lampung, 28 Oktober 2013

Kamis, 03 Januari 2013

Damailah, aku ada karena kau telah tercipta.



Dalam bentangan cakrawala kau menebarkan jejak berupa bintang-bintang.  Kukumpulkan, kugenggami dan kuerami dalam doa-doa.  Biar kurangkai menjadi  Andromeda, Antlia, Microscopium,  Puppis atau rasi apa saja. Lalu akan kukembalikan padamu.  Saat itu, mari  menyulang cahaya. Untuk merayakan bersatunya raga yang seperempat abad tak pernah sua. Meski  sejatinya jiwa kita saling memeluk dalam harap dan air mata. Damailah, aku ada karena kau telah tercipta.

Kamis, 23 Februari 2012

Berjanjilah untuk Selalu Menjaga Nyala Baranya





Untuk Adikku tersayang
Dalam pengarungan samudra asa.

Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuhu..

            Adikku sayang, bagaimana kabarmu di sana? Semoga selalu dalam buaian kasih-Nya. Hamdan lillah nikmat sehat-Nya masih memayungi kakak di sini. Dan semoga kucuran Rahman-Nya tak pernah henti mengaliri jiwa-jiwa kita dan keluarga. (Aaamin Yaa Mujibassailiin)

            Surat yang kau layangkan sudah kakak terima. Telah kakak baca dengan seksama. Sebenarnya apa yang membuatmu rendah diri, dik? Mengapa semangatmu menjadi layu seperti bunga bakung yang kekurangan cahaya matahari dan zat bergizi? Apa karena tatapan mereka yang memandangmu sebelah mata hanya karna kau anak seorang nelayan di pesisir pantai dan dari ibu buruh cuci?

            Kakak bukan hendak menyalahkanmu, namun apakah kau tak bangga terlahir dari benih cinta manusia yang berjiwa mulia seperti Abah dan Emak? Beliau memang tidak membekali kita dengan tumpukkan pakaian mewah dan berbagai alat  teknologi canggih yang kini mereka banggakan di depanmu. Namun Beliau justru memberi kita sesuatu yang tak kan bisa tergadai oleh dolar.

Sejak usia kita dini mereka telah mengenalkan kita pada Sang Pemilik Hidup. Yang harus kita “temui” lima kali sehari. Bahkan di sepertiga malam kala banyak anak manusia yang masih lena dalam lelapnya. Ataupun memohon rezeki agung lewat Duha-Nya. Perlu kau ingat sayang, rezeki itu tak hanya berwujud uang, kesehatan dan keharmonisan juga wujud dari rezeki yang jangan tak kau perhitungan. Dari Abah dan Emak pulalah kita temukan mulianya semangat hidup, Dalam harinya, beliau bahkan tak sempat mengeja lelah. Tetap ikhlas berpeluh, demi kita pendar jiwanya.

Masih ingatkah kau saat ribuan kebahagiaan menjamahi jiwamu setahun yang lalu?? Saat kau lolos seleksi hingga beasiswa mengantarkanmu mengenyam pendidikan ke pulau seberang. Saat itu Abah dan Emak larut dalam zikir. Menyenandungkan syukur pada Dia yang tak pernah tidur.

Esoknya, kita dapati kedua kambing abah sudah tak menghuni kandangnya. Ternyata abah menjualnya. Demi memberimu uang saku agar kau tak terlantar di sana. Padahal kita tahu, beasiswamu telah menjamin semua keperluanmu, termasuk masalah uang saku. Tapi itulah abah, selalu rela mengorbankan apa yang dipunya.

Tak beda pula Emak, beberapa malam sebelum kau pergi memintal mimpi, Emak selalu menemani tidurmu. Seperti takut bentangan jarak akan mencipta rindu. Itulah Emak, tulus kasihnya tak lekang oleh waktu. Dan untuk semua itu nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan, sayang?

Dan dari semua yang mereka beri, relakah kau biarkan semangatmu layu? Tak inginkah kau mengusap peluh mereka dengan segudang prestasi? Menghadirkan sungging senyum di bibir mereka dengan keberhasilan yang kita bawa.  Kakakpun di sini terus berjuang, mempersembahkan pelangi bahagia pada Abah dan Emak yang semakin senja. Hadirkan lagi api semangat itu, sayang. Jadikan kobarannya menjilat-jilat melahap rasa rendah dirimu menjadi abu tanpa sisa

Mungkin sampai di sini dulu kita dapat berjabat pena. Lain waktu kita rangkai lagi kata indah sebagai pengobat rindu. Semoga apa yang kakak sampaikan dapat menyalakan lagi api semangatmu. Dan berjanjilah untuk selalu menjaga nyala baranya.



Dari kakakmu yang selalu merindu,
Wang Shabara Zafira.

(Dinobatkan sebagai juara 1 terbaik dalam event menulis surat fiksi di grup SYS)

Minggu, 19 Februari 2012

Saatnya jadi pelopor, bukan hanya pengekor

“Man jalasa janasa, Ukhti” Pesan salah seorang sahabat sore tadi. 

Mungkin bisa ditafsirkan, dengan siapa kita bergaul, kurang lebih seperti itulah pandangan orang terhadap kita. Anda boleh setuju atau tidak, bahwa pergaulan kita turut membentuk karakter diri kita sendiri. Setidaknya akan ada dua opsi yang hadir; kita ikut arus teman, atau teman yang ikut arus kita. Kalau memang mampu memberi pengaruh yang baik, kenapa tidak kau lakukan? Saatnya jadi pelopor, bukan hanya pengekor!!!

Keep Hamasah.. ^_^

Keep Ikhlas

Ada kalanya langkah yang kita anggap baik dan berharap bisa mempebaiki keadaan, ternyata adalah bumerang bagi diri. Apapun itu jangan lelah untuk terus belaku baik, meski tak kau rasakan balasan yang baik. Kerjakan hal baik yang bisa kau amalkan hingga batas lelah mengampiri. Gunakan rumus ikhlas agar hati selalu lapang. Karena di dunia hanya ada amalan, bukan balasan. Dan di akhirat baru akan kau jumpai balasan dan tiada lagi beramal.

Keep Ikhlas, wa la tansa HAMASAH... ^_^

Bagi Wanita yang Sedih hatinya, Bangun!!!!

Setelah kuperhatikan, tidak sedikit wanita-wanita hebat, cerdas dan mengagumkan yang pernah aku kenal (baik kukenal secara dekat ataupun hanya sekedar kenal biasa) namun bisa menjadi lemah bahkan menjurus bodoh hanya karena masalah urusan privasi hatinya dengan seorang pria. Dan karena urusan hatinya yang terlalu dipublikasikan itulah ia menjadi tidak terlihat semengagumkan dulu. Mungkin juga karena wanita memang dikodratkan lebih mendahulukan perasaannya ketimbang logikanya. Dan direntang waktu itu, aku seolah kesal dan ingin meneriakan “ayo jangan terpuruk seperti itu, kamu hebat!! Kamu kuat!! Kamu tak seharusnya begini!! 

Allah... Mohon karuniakan logika pada setiap rasa yang mulai menyusup-nyusupi hati. Dan bagi wanita-wanita yang sedang sedih hatinya, BANGUN!!!!

 # Tiba-tiba aku bergidik saat terdetik sesuatu yang lebih menakutkan, jangan-jangan akupun termasuk wanita yang demikian. #

Keep Hamasah Ladys.. ^_^

Senin, 13 Februari 2012

Cepatlah Hapus Air matamu!!!




Untukmu, yang  masih mengharapkan dia yang telah meninggalkanmu. Dengarlah ini:
Lihatlah itu, di depan sana masih banyak kebahagian yang telah menantimu. Dan di sekelilingmu ini masih banyak orang-orang yang menyayangimu dan pantas untuk kamu sayangi.

Kamu hebat, kamu kuat, kamu tak seharusnya kamu begini, terpuruk dalam ratapan yang hanya membuamu terlihat lemah dan bodoh. Cepatlah hapus airmata dan tinggalkan ratapanmu! Karena dia mungkin punya satu alasan untuk tidak membersamaimu lagi, tapi Allah pasti punya berjuta alasan mengapa ia tak pantas menjadi bagian dari masa depanmu.

Fokuslah pada pembenahan dan pencapaian. Allah sudah mempersiapkan yang baik untuk yang baik pula. Aku percaya pada janji Allah. Ayo semangat!! :) :)