METODE DIAM (الطرقة الصامته)
a. Konsep dasar sailent way
Sailent way (metode guru diam/ al- thariqah al- shamitah) dicetuskan
oleh caleb Gategno (1972), seorang ahli pengajaran bahasa yang
menerapkan prinsip-prinsip kognitivesme dan ilmu filsafat dalam
pengajaranya. Ia mencermati konsep filsafat stevick (1979) yang di
jadikanya sebagai ide dasar untuk memunculkan metode ini antara lain ;
a. Diri (the self) seseorang sama dengan tenaga yang bekerja dalam
tubuhnya melalui panca indra, dan bertujuan untuk mengatur
masukan-masukan dari luar. Diri itu kemudian membuang sesuatu yang di
anggap tidak berguna dan menyimpan sesuatu yang di anggap merupakan
bagian dari dirinya.
b. Diri seseorang itu mulai bekerja pada waktu manusia di ciptakan dalam
kandungan. Sumber awal tenaga itu adalah DNA (deoxyribonucleic acid)
yang merupakan dasar molekul keturunan dalam organisme-organisme manusia
sehigga diri dapat mengelolah masukan-masukan dari luar, di samping itu
diri menambahkan tenaga untuk menampung masukan-masukan selanjutnya.
Inilah secara umum pandangan gategno, yang mengamati hal-hal yang
terjadi pada manusia secara berulang-ulang, untuk mengembangkan metode
guru diam.
Selanjutnya ia melihat bahwah belajar pada hakekatnya melibatkan dua langkah;
a. Belajar adalah pekerjaan yang di sengaja dilakukan dengan sadar dan
diperintah oleh kemauan yang keras (will). Hal ini di atur oleh otak
yang menghasilkan aktivitas mental.
b. Belajar adalah proses mengasimilasikan hasil-hasil aktivitas mental
melalui pembentukan gambaran batin (image) yang baru atau perubahan
gambaran batin yang lama
Dinamakan metode guru diam karena guru lebih banyak diamnya dari
pada berbicara saat proses belajar mengajar berlangsung. Namun
sebenarnya tidak hanya guru yang diam, pelajarpun memiliki saat-saat
diam untuk tujuan tertentu. Menurut Arsyad (2004;28) guru di mintak diam
di dalam metode ini sekitar 90% dari alokasi waktu yang di pakai,
tetapi ada juga saat-saat tertentu bagi pelajar untuk diam tidak
membaca, tidak menghayal, tidak juga menonton video, melainkan
berkonsentrasi pada bahasa asing yang baru saja di dengar. Keunikan
lainya adalah penggunaan alat peraga berupa balok/tonkat kayu yang biasa
disebut Cuisenaire rods, begitu juga isyarat jika diperlukan. Alat
peraga ini digunakan selain sebagai media untuk mengajarkan
konstruksi-konstruksi kalimat, juga untuk memperkuat konsentrasi para
pelajar saat materi di sajikan. Satu materi biasanya diberikan satu
kali, tudak di ulangi. Begitu materi di berikan konsentrasi di perkuat
karna pelajar menyadari bahwakh tidak di ulangi. Prinsip yang di pegang
adalah adanya aspek terhadap kemampuan pelajar untuk mengajarkan
masalah-masalah bahasa serta kemampuan untuk mengingat informasi tanpa
adanya verbilisasi dan bantuan dari guru.
Materi yang bdigunakan dalam metode guru diam ini
berdasarkan struktur bahasa. Bahsa di pandang sebagai kelompok-kelompok
bunyi yang di hubungkan dengan makna-makna tertentu. Dan diatur menjadi
kalimat-kalimat melalui aturan-aturan bahasa. Pelajaran di sajikan
secara bertahap dari unsure yang mudah ke yang sukar, sedangakan materi
kosa kata dan struktur kalimat di sajikan sedikit emi sedikit sehingga
menjadi unit-unit yang kecil. Unit belajar bahasa dalam metode ini
adalah kalimat. Guru dalam hal ini mangajarkan satu makna dari suatu
kalimat tanpa menyebutkan makna-makna lain yang mungkin terdapat dalam
komunikasi sehari hari yang wajar. Para pelajar di berikan pola-pola
kalimat bahasa asing dan di berikan aturan-aturan bahasa melalui proses
induktif. Sebaliknya juga kosa kata mendapat tempat yang penting.
Metode guru diam memiliki tujuan pokok sebagai berikut ;
a. Melatih keterampilan para pelajar dalam menggunakan bahasa asing yang
di pelajari secara lisan sehinngah mampu mencapai kelancaran berbahasa
yang hampir sama dengan penutur asli.
b. Melatih keterampilan para pelajar dalam menyimak pembicaraan lawan
bicara. Menyimak di pandang sebagai unsure yang cukup sulit apalagi jika
bahasa itu di bawahkan oleh penutur aslih, jadi sebaikya cermat dalam
menyimak.
c. Melatih pelajar agar mampu mengusai tata bahasa yang praktis. Tata
bahasa diberikan dengan bertahap dengan proses induktif, dan tidak
terlalu menonjolkan konsep secara verbal.
Langkah-langkah penggunaan silent way
Langkah-langkah yang bias di ambil oleh guru dalam menggunakan metode ini secara garis besarnya antara lain ;
a. Pendahuluan. Guru menyediakan alat peraga berupa; (a) papan peraga
yang bertulisakan materi (fidel chart). Papan ini berisi ejajan dari
semua suku kata dalam bahasa asing yang di pelajari. (b) tongkat/balok
kayu (cuisenenaire rods). Tonkat yang biasanya berjumlah sepuluh dengan
warna yang berbeda-beda yang nantinya di gunakan sebagai alat peraga
dalam membentuk kalimat lengkap.
b. Guru menyajikan satu butir bahasa yang di pahami, penyajianya hanya
satu kali saja. Dengan demikian ia memaksa para pelajar untuk
menyimakdengan baik. Pada permulaan, guru pun tidak mengatakan apa-apa,
tetapi hanya menunjukkan pada symbol-simbol yang tertera di papan
peraga. Pelajar mengucapkan symbol yang di tunjuk guru dengan melafal
dengan keras, mula-mula secara serentak. Kemudian atas petunjuk guru,
satu persatu pelajar melafalkanya. Langkah ini adalah tahap permulaan.
c. Sesudah pelajar mampu mengucapkan bunyi-bunyi dalam bahasa asing yang
di pelajari, guru menyajikan papan peraga yang kedua yang berisi kosa
kata yang terpilih, kosa kata ini di ambil dari kalimat-kalimat yang
paling sering di gunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kosa kata ini
sangat berguna bagi para pelajar dalam menyusun sebuah kalimat secara
mandiri, langkah ini juga masih tahap permulaan.
d. Guru menggunakan tongkat warna-warni yang trlah di sediakan untuk
memancing para pelajarberbicara bahasa asing yang sedang di pelajari,
pada saat ini guru mengangkat tongkat dan berkata, misalnya ;
هذا العصا ا حمر
Setelah itu guru mengangkat tongkat lain yang berlainan warna, misalnya ;
هذا العصا ا ز رق
Dengan demikian para pelajar akan terangsang untuk membuat kalimat
lengkap secara lisan dengan kata-kata yang telah mereka kuasai
sebelumnya. Dalam hal ini penggunaan isyarat yang palinng benar cukup
penting sebagai pengganti penjelasan verbal.
e. Sebagai penutup, guru bias mengadakan pengetesan keberhasilan pelajar
dalam penguasaan kosa kata yang telah di ajarkan dengan mengunakan
perintah-perintah yang sedapat mungkin tidak secara verbal seperti
halnya pada poin nomor 4 di atas. Dalam pengetesan ini tentu harus
memperhatiakn waktu yang tersedia, tidak mungkin dengan keterbatasan
waktu pengetesan dapat di berikan ke seluruh pelajar.
Kelebihan dan kekurangan silent way
Sebagaimana metode- metode lain silent way juga memiliki kelebihan dan kekurangan.
Di antara kelebihanya adalah;
a. Tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas dalam metode ini berfungsi untuk
mendorong serta membentuk respon pelajar. Maka dalam hal ini kelas
menjadi aktif.
b. Mendidik untuk berkonsentrasi terhap materi pelajaran juga para
pelajar di tuntut untuk selslu berusaha sendiri dalam belajar.
c. Karena tidak ada pembetulan kalau ada kesalahan yang dilakukan oleh
pelajar, dan tidak ada keterangan mak pelajar di dorong untuk membuat
analogi-analogi sendiri dengan cara membuat kesimpulan dan rumusan
aturan atuaran sendiri. Ini melatih mereka dalam membuat kesimpulan dan
keputusan secara cepat.
Di antara kekurangan metode ini adalah ;
a. Silent way memberikan kebebasan kepada pelajar untuk menentukan
pilihan-pilihan dalam situasi-situasi yang di sajikan. Cara ini terkesan
bahwah pelajar dapat menguasai situasi belajar, namun dalm kenyataanya
guru yang masih berperan aktif dalam proses belajar mengajar
(teacher-centered).
b. Jika di telaah secara seksama, silent way di gunakan untuk pelajar
tingkat pemula yang hanya di berikan materi-materi pelafalan suku kata
dan membuat konstruksi kalimat-kalimat sederhanaya. Sedangkan membaca
dan mengarang nampaknya akan sulit di ajarkan demgan metode ini.
c. Sebagaimana di jelaskan dalam konsep sailent way bertujuan membimbing
para pelajar agar mencapai kelancaran berbahasa yang hampir sama dengan
penutur asli, maka mereka di tuntut untuk menguasai lafal yang benar,
intonasi, irama, dan jeda dalam berbicara dengan bahasa asing yang
dipelajari, proses belajar mengajar yang di gariskan oleh metode ini
nampaknya tidak meberi jaminan untuk mencapai tujuan tersebut.
d. Pada dasarnya sailent way pada akhirnya cenerung memiliki banyak
kesamaaan dengan audiolingual, sebab bagaimanapun pelajar yang di beri
materi satu kali akan sangat membutuhkan pengulangan, apalagi mereka
yang baru mengenal bahasa asing yang sedang dipelajari.
DAFTAR PUSTAKA
Acep Hermawan,
Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 2011