Powered By Blogger

Jumat, 15 Februari 2013

Kita Menikah Saja


"Aku suka, kau suka. Kamu cinta, aku juga. Ya sudah kita menikah saja"
"Tapi kita berbeda keyakinan"
"Berbeda keyakinan? Maksudmu?"
"Kamu yakin jika kamu bisa diterima oleh keluargaku, tapi aku tidak yakin jika aku bisa diterima oleh keluargamu"
"Haiiih, tolong buang kata-katamu itu, yang terpenting kita saling mencinta. Bukankah kau tahu kekuatan cinta itu dahsyat? Cinta dapat memporak-porandakan kota, cinta dapat membuat yang waras jadi gila, cinta juga yang membuat Arok menamatkan hidup Tunggal Ametung. Dahsyat bukan??!
"Tapi tidakkah aku terlalu tinggi berharap? Engkau gadis cantik jelita, sedangkan aku hanya seekor tikus rumahan. Biar kupertegas, engkau manusia dan aku hewan!”

Kamis, 03 Januari 2013

Damailah, aku ada karena kau telah tercipta.



Dalam bentangan cakrawala kau menebarkan jejak berupa bintang-bintang.  Kukumpulkan, kugenggami dan kuerami dalam doa-doa.  Biar kurangkai menjadi  Andromeda, Antlia, Microscopium,  Puppis atau rasi apa saja. Lalu akan kukembalikan padamu.  Saat itu, mari  menyulang cahaya. Untuk merayakan bersatunya raga yang seperempat abad tak pernah sua. Meski  sejatinya jiwa kita saling memeluk dalam harap dan air mata. Damailah, aku ada karena kau telah tercipta.

Sabtu, 08 Desember 2012

أني أحبك



أكرر للمرة الألف أني أحبك
 كيف تريديني أن افسر ما لا يفسر 
 وكيف تريدينني أن أقيس مساحة حبي 
 وحبي كالطفل 
 يزداد في كل يوم جمالا ويكبر

Riang Dicerai Musim






Kota ini tak lagi memeluki senyum. Riang telah dicerai musim.
Hanya lampu-lampu yang tetap cahaya, bukan kita.
Sebab pipiku telah kaucuri ronanya, kau genggami bersama riuhmu, ikut melaju ke kota tua, kota tak bernama.

Jari-jari telah sering terulur bersama aliran doa yang menembus kemurungan.
Hingga sungai-sungai hidup di pipiku, merayap ke mimpimu.
Hingga gemuruh debar di jantungku mendenyut di nadimu.
Hingga sesak nafasku terbang ke paru-parumu.
Juga lirih namamu yang kueja diam diam, sampai ke pendengaranmu.

Hatimulah tempat ternyaman untukku membagi jarak. Manalah mungkin aku berhenti mengetuki kedua belah kelopak matamu, sedang mimpiku terlanjur bermukim di keduanya. Menelurkan rindu yang berdenyut pilu, lalu kubiarkan mati dengan caranya sendiri. 

Selasa, 04 Desember 2012

SILENT WAY

METODE DIAM (الطرقة الصامته)



a. Konsep dasar sailent way
Sailent way (metode guru diam/ al- thariqah al- shamitah) dicetuskan oleh caleb Gategno (1972), seorang ahli pengajaran bahasa yang menerapkan prinsip-prinsip kognitivesme dan ilmu filsafat dalam pengajaranya. Ia mencermati konsep filsafat stevick (1979) yang di jadikanya sebagai ide dasar untuk memunculkan metode ini antara lain ;
a. Diri (the self) seseorang sama dengan tenaga yang bekerja dalam tubuhnya melalui panca indra, dan bertujuan untuk mengatur masukan-masukan dari luar. Diri itu kemudian membuang sesuatu yang di anggap tidak berguna dan menyimpan sesuatu yang di anggap merupakan bagian dari dirinya.
b. Diri seseorang itu mulai bekerja pada waktu manusia di ciptakan dalam kandungan. Sumber awal tenaga itu adalah DNA (deoxyribonucleic acid) yang merupakan dasar molekul keturunan dalam organisme-organisme manusia sehigga diri dapat mengelolah masukan-masukan dari luar, di samping itu diri menambahkan tenaga untuk menampung masukan-masukan selanjutnya.

Inilah secara umum pandangan gategno, yang mengamati hal-hal yang terjadi pada manusia secara berulang-ulang, untuk mengembangkan metode guru diam.

Selanjutnya ia melihat bahwah belajar pada hakekatnya melibatkan dua langkah;
a. Belajar adalah pekerjaan yang di sengaja dilakukan dengan sadar dan diperintah oleh kemauan yang keras (will). Hal ini di atur oleh otak yang menghasilkan aktivitas mental.
b. Belajar adalah proses mengasimilasikan hasil-hasil aktivitas mental melalui pembentukan gambaran batin (image) yang baru atau perubahan gambaran batin yang lama

Dinamakan metode guru diam karena guru lebih banyak diamnya dari pada berbicara saat proses belajar mengajar berlangsung. Namun sebenarnya tidak hanya guru yang diam, pelajarpun memiliki saat-saat diam untuk tujuan tertentu. Menurut Arsyad (2004;28) guru di mintak diam di dalam metode ini sekitar 90% dari alokasi waktu yang di pakai, tetapi ada juga saat-saat tertentu bagi pelajar untuk diam tidak membaca, tidak menghayal, tidak juga menonton video, melainkan berkonsentrasi pada bahasa asing yang baru saja di dengar. Keunikan lainya adalah penggunaan alat peraga berupa balok/tonkat kayu yang biasa disebut Cuisenaire rods, begitu juga isyarat jika diperlukan. Alat peraga ini digunakan selain sebagai media untuk mengajarkan konstruksi-konstruksi kalimat, juga untuk memperkuat konsentrasi para pelajar saat materi di sajikan. Satu materi biasanya diberikan satu kali, tudak di ulangi. Begitu materi di berikan konsentrasi di perkuat karna pelajar menyadari bahwakh tidak di ulangi. Prinsip yang di pegang adalah adanya aspek terhadap kemampuan pelajar untuk mengajarkan masalah-masalah bahasa serta kemampuan untuk mengingat informasi tanpa adanya verbilisasi dan bantuan dari guru.

Materi yang bdigunakan dalam metode guru diam ini berdasarkan struktur bahasa. Bahsa di pandang sebagai kelompok-kelompok bunyi yang di hubungkan dengan makna-makna tertentu. Dan diatur menjadi kalimat-kalimat melalui aturan-aturan bahasa. Pelajaran di sajikan secara bertahap dari unsure yang mudah ke yang sukar, sedangakan materi kosa kata dan struktur kalimat di sajikan sedikit emi sedikit sehingga menjadi unit-unit yang kecil. Unit belajar bahasa dalam metode ini adalah kalimat. Guru dalam hal ini mangajarkan satu makna dari suatu kalimat tanpa menyebutkan makna-makna lain yang mungkin terdapat dalam komunikasi sehari hari yang wajar. Para pelajar di berikan pola-pola kalimat bahasa asing dan di berikan aturan-aturan bahasa melalui proses induktif. Sebaliknya juga kosa kata mendapat tempat yang penting.

Metode guru diam memiliki tujuan pokok sebagai berikut ;
a. Melatih keterampilan para pelajar dalam menggunakan bahasa asing yang di pelajari secara lisan sehinngah mampu mencapai kelancaran berbahasa yang hampir sama dengan penutur asli.
b. Melatih keterampilan para pelajar dalam menyimak pembicaraan lawan bicara. Menyimak di pandang sebagai unsure yang cukup sulit apalagi jika bahasa itu di bawahkan oleh penutur aslih, jadi sebaikya cermat dalam menyimak.
c. Melatih pelajar agar mampu mengusai tata bahasa yang praktis. Tata bahasa diberikan dengan bertahap dengan proses induktif, dan tidak terlalu menonjolkan konsep secara verbal.

Langkah-langkah penggunaan silent way
Langkah-langkah yang bias di ambil oleh guru dalam menggunakan metode ini secara garis besarnya antara lain ;
a. Pendahuluan. Guru menyediakan alat peraga berupa; (a) papan peraga yang bertulisakan materi (fidel chart). Papan ini berisi ejajan dari semua suku kata dalam bahasa asing yang di pelajari. (b) tongkat/balok kayu (cuisenenaire rods). Tonkat yang biasanya berjumlah sepuluh dengan warna yang berbeda-beda yang nantinya di gunakan sebagai alat peraga dalam membentuk kalimat lengkap.
b. Guru menyajikan satu butir bahasa yang di pahami, penyajianya hanya satu kali saja. Dengan demikian ia memaksa para pelajar untuk menyimakdengan baik. Pada permulaan, guru pun tidak mengatakan apa-apa, tetapi hanya menunjukkan pada symbol-simbol yang tertera di papan peraga. Pelajar mengucapkan symbol yang di tunjuk guru dengan melafal dengan keras, mula-mula secara serentak. Kemudian atas petunjuk guru, satu persatu pelajar melafalkanya. Langkah ini adalah tahap permulaan.
c. Sesudah pelajar mampu mengucapkan bunyi-bunyi dalam bahasa asing yang di pelajari, guru menyajikan papan peraga yang kedua yang berisi kosa kata yang terpilih, kosa kata ini di ambil dari kalimat-kalimat yang paling sering di gunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kosa kata ini sangat berguna bagi para pelajar dalam menyusun sebuah kalimat secara mandiri, langkah ini juga masih tahap permulaan.
d. Guru menggunakan tongkat warna-warni yang trlah di sediakan untuk memancing para pelajarberbicara bahasa asing yang sedang di pelajari, pada saat ini guru mengangkat tongkat dan berkata, misalnya ;
هذا العصا ا حمر
Setelah itu guru mengangkat tongkat lain yang berlainan warna, misalnya ;
هذا العصا ا ز رق
Dengan demikian para pelajar akan terangsang untuk membuat kalimat lengkap secara lisan dengan kata-kata yang telah mereka kuasai sebelumnya. Dalam hal ini penggunaan isyarat yang palinng benar cukup penting sebagai pengganti penjelasan verbal.
e. Sebagai penutup, guru bias mengadakan pengetesan keberhasilan pelajar dalam penguasaan kosa kata yang telah di ajarkan dengan mengunakan perintah-perintah yang sedapat mungkin tidak secara verbal seperti halnya pada poin nomor 4 di atas. Dalam pengetesan ini tentu harus memperhatiakn waktu yang tersedia, tidak mungkin dengan keterbatasan waktu pengetesan dapat di berikan ke seluruh pelajar.

Kelebihan dan kekurangan silent way
Sebagaimana metode- metode lain silent way juga memiliki kelebihan dan kekurangan.
Di antara kelebihanya adalah;
a. Tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas dalam metode ini berfungsi untuk mendorong serta membentuk respon pelajar. Maka dalam hal ini kelas menjadi aktif.
b. Mendidik untuk berkonsentrasi terhap materi pelajaran juga para pelajar di tuntut untuk selslu berusaha sendiri dalam belajar.
c. Karena tidak ada pembetulan kalau ada kesalahan yang dilakukan oleh pelajar, dan tidak ada keterangan mak pelajar di dorong untuk membuat analogi-analogi sendiri dengan cara membuat kesimpulan dan rumusan aturan atuaran sendiri. Ini melatih mereka dalam membuat kesimpulan dan keputusan secara cepat.

Di antara kekurangan metode ini adalah ;
a. Silent way memberikan kebebasan kepada pelajar untuk menentukan pilihan-pilihan dalam situasi-situasi yang di sajikan. Cara ini terkesan bahwah pelajar dapat menguasai situasi belajar, namun dalm kenyataanya guru yang masih berperan aktif dalam proses belajar mengajar (teacher-centered).
b. Jika di telaah secara seksama, silent way di gunakan untuk pelajar tingkat pemula yang hanya di berikan materi-materi pelafalan suku kata dan membuat konstruksi kalimat-kalimat sederhanaya. Sedangkan membaca dan mengarang nampaknya akan sulit di ajarkan demgan metode ini.
c. Sebagaimana di jelaskan dalam konsep sailent way bertujuan membimbing para pelajar agar mencapai kelancaran berbahasa yang hampir sama dengan penutur asli, maka mereka di tuntut untuk menguasai lafal yang benar, intonasi, irama, dan jeda dalam berbicara dengan bahasa asing yang dipelajari, proses belajar mengajar yang di gariskan oleh metode ini nampaknya tidak meberi jaminan untuk mencapai tujuan tersebut.
d. Pada dasarnya sailent way pada akhirnya cenerung memiliki banyak kesamaaan dengan audiolingual, sebab bagaimanapun pelajar yang di beri materi satu kali akan sangat membutuhkan pengulangan, apalagi mereka yang baru mengenal bahasa asing yang sedang dipelajari.

DAFTAR PUSTAKA
Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 2011

Sabtu, 24 November 2012

Hikayat Wanita yang Memerami Air Mata


 



Syahdan, seorang wanita berbibir tipis, o bukan, seorang gadis berbaju tipis, o bukan, seorang gadis yang tak lagi gadis berlari ke tepian malam dengan sekarung cemas juga air mata yang telah lama ia peram.

Dibawanya serta riwayat pesakitan, lambung kosong serta kecut kehidupan yang telah lama menganiaya usia.

Lalu, dititipkanya kebahagiaan yang serupa benalu pada desah yang meresah, cucuran keringat juga goncangan cairan tengah tubuh anak manusia; surga baginya.

Bodoh!! Apa ia tak mengenal dongeng nabi-nabi juga indahnya surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai susu? Atau perihal  kalajengking dan cacing-cacing yang menjadi teman jasad yang terpendam?

Oo bukan,
bukan hendak melumat bulat-bulat perihal siksa kubur juga api neraka, namun kisah paling darah ini hanya ia yang mampu menjamahinya. Bukan kamu, bukan kita, ataupun wanita-wanita kampung yang dari bibirnya selalu berloncatan segala cicir, segala serapah.

--Kini ia terus melangkah dengan biduk pelepah dan air mata, dengan kenangan yang terus beranak pinak, dengan ramai dosa yang menyesakki batok kepala.

Ia mulai mengemas juga mangemis cinta Pencipta, karena sejauh apapun jiwanya bertualang, dalam gelap dan dingin lubang kosonglah kelak ia akan berpulang.

طرق ومعايير إختيار وتنظيم المواد التعليمية




أ‌.       التمهيد
الحمدلله رب العالمين نحمده ونستعينه ونعوذ بالله من سرور أنفسنا ومن سيئة اعمالنا ، أما بعد . في هذه المقالة ستبحث عن طرق ومعايير إختيار وتنظيم المواد التعليمية اللغة العربية ، أما طرق إختيار المواد التعليمية يعنى قدم الخبراء مجموعة من المعايير التى يمكن أن يختار في ضوئها محتوى المنهج . إلا أننا نؤثر الأخذ بمعايير نيكولاس لإختيار المحتوى إذ أنها أكثر صلة ببرامج تعليم اللغة العربية . وأما طرق تنظيم المواد التعليمية هي يقصد بتنظيم المحتوى ترتيبه بطريقة توفر أحسن الظروف لتحقيق أكبر قدر من أهداف المنهج .

ب‌.  أسئلة البحث
1.   مفهوم المواد التعليمية  ؟
2.   كيف طرق الإختيار والتنظيم المواد التعليمية ؟
3.   ما معايير الإختيار والتنظيم المواد التعليمية ؟


ت‌.  البحث الأول: مفهوم المواد التعليمية
المواد التعليمية هي المحتوى التعليمى الذى نرغب في تعليمه للطلاب بغرض تحقيق أهداف تعليمية معرفية أو مهارية أو وجدانية . وهي المضمون الذي يتعلمه الطلاب فى علم ما .[1]
و قد رشدي أحمد طعيمة ان المواد التعليمية هي مجموعة الخبرات التربوية و الحقائق و المعلومات التي يرجى تزويد الطلاب بها والإتجاهات والقيم التي يرد تنميتها عندهم، أو المهارات الحركية التي يرد اكسابهم اياها بهدف تحقيق النمو الشامل التكامل لهم في ضوء الأهداف المقررة في المنهجز [2]

ث‌. البحث الثاني: طرق الإختيار والتنظيم المواد التعليمية
1.   طرق الإختيار المواد التعليمية
هناك عدة أساسية اساليب يمكن لواضح المنهج عند إختيار المحتوي أن يجدها أكثر شيوعا في إختيار المحتوي مادة اللغة العربية للناطيقين بلغات أخرى:
 المناهج الأخرى: يمكن للمعلم أن يشتر شد بمناهج  تعليم اللغات الثانية مثل الإنجلزية كلغة ثانية و كلغة أجنبية، و في ضوء هذا المناهج يستطيع أن ينتقى المتوى اللغوى فى منهج مع الأخذ الإعتبار التفاوت بين طبيعة اللغتين (العربية و الانجلزية) و ظرف المناهج.

رأى الخبراء: (Experts Gudgement)  و من الممكن للمعلم أن يستر شد بأراء الخبراء سواء اكان محتصصين في التعليم العربية للناطقين بللغات أخرى أو كانوا معلمين لدروس اللغة أو لمربون في ميدان التعليم أو من كان له صلة وثيقة با الميدان.
المسح: (Survey)  و يقصد بذالك إجراء دراسة ميدنية حول خصائص الدارسين و تعريف ما يناسبهم من المحتوى اللغوى.
التحليل: (Analisys) يعنى تحليل المواقف التي يحتاج الطالب فيها للإتصال بالعربية

2.   إختيار المواد التعليمية
وهناك بعض المبادى العامة يجب مراعتها في إختيار المادة التعليمية منها :
1.   صحة المادة ويطلب ذلك حرصا ووعيا من المعلم في إختيار المادة المعروضة.
2.   مناسبتها لعقول الطلاب من حيث مستواها ، فلا تكون فوق مستواهم يملون منها ، ولا دون مستواهم فيستهترون بها .
3.   أن تكون المادة المختارة مرتبطة بحياة الطلاب وبالبيئة يعيشون فيها .
4.   أن تكون المادة مناسبة لوقت الحصة فلا تكون طويلة بحيث لا يستطيعون المعلم أن ينتهي منها في الحصة ، ولا قصيرة بحيث أن ينتهي منها في وقت قصيرة مما يحتاج للطلاب فرصة اللعب وصياع الوقت .
5.   يجب أن ترتب المادة ترتيبا منطيقيا بحيث يبنى كل جزء على سابقة ويرتبط يلاحقة من غير تكلف .
6.   أن تقسم مادة المقرر إلى وحدات توزع على أشهر السنة .
7.   ربط المادة الدرس الجديد بمادة الدرس القديم أو ربط الموضوع الدرس بغيره من موضوعات المادة ، أو ربط بما يتصل به من المواد الأخرى .[3]


3.   طرق تنظيم المواد التعليمية

و بعد تحليل المادة المختارة، تأتي عملية بعدها و هو تنظيم تلك المواد التعليمية، أو ترتيب ما تم إختياره من معارف مهارات و قيم حول مركز معين، حتى يكون له معنى، واستمرارية و يمكن تقديمه للتعليم، و تحقق أهداف التربية بأكبر فعالية و كفاية ممكنة، ولكي يكون أكثر ملائمة للتعليم والتعلم ، ويكون برنامجا تربويا متماسكا متناسقا متوازنا .
هناك بعدان لتنظيم المحتوى ، أحدهما يختص بترتيب مكوناته على إمتداد الزمن ، وهو البعد الرأسى للمنهج ، والثانى يهتم بترتيب مكوناته جنبا إلى جنب وهو البعد الأفقى للمنهج .
وهذان البعدان : الرأسى والأفقى لتنظيم المحتوى لهما أهميتهما في تحديد الأثر الذى يتراكم لمحتوى البرنامج الدراسى ، وخبرات التعلم التى تكتسب منه .

4.   تنظيم المواد التعليمية
يقصد بتنظيم المحتوى ترتيبه بطريقة توفر احسن الظروف لتحقيق اكبر قدر من الاهداف المنهج.
ويطرح الخبراء تصورين لتنظيم محتوى المنهج هما :
1.   التنظيم المنطقي : ويقصد بذلك تقديم المحتوى مرتبا فى ضوء المادة ذاتها ، أي مراعاة الترتيب المنطقى للمعلومات والمفاهيم يصرف النظر عن مدى قابلية الطلاب لذلك . ففي النحو مثلا يبدأ المنهج بالموضوعات النحوية البسيطة (الجملة الإسمية/ الفعلية ...) وينتهى بالموضوعات المعقدة (الإشتغال، التنازع فى العمل ...). وفى هذا التنظيم تراعى مبادىء التدرج من البسيط إلى المعقد ، من السهل إلى السعب، من القديم إلى الحديث .
2.   التنظيم السيكلوجى : ويقصد بذلك تقديم المحتوى فى ضوء حاجات الطلاب ، وظروفهم الخاصة. وليس فى ضوء طبيعة المادة وحدها. ولا يلتزم هذا التنظيم بالترتيب المنطقى للمادة. فقد يبدأ الطلاب يتعلم الإستفهام والتعجب والإضافة. مثلا ذلك حسب المواقف اللغوية التى يمرون بها دون التزام بتقديم الجملة الفعلية أو إسمية أولا.

ج‌.  البحث الثالث: معايير الإختيار والتنظيم المواد التعليمية
1.   معايير الإختيار المواد التعليمية
عند إختيار المحتوى للمواد التعليمية فهنالك معايير لابد من الإهتمام بها ، وأما تلك المعايير المقصودة فهي كما يلى :[4]
 معايير الصدق Validity
يكون المحتوى صادقا عندما يكون واقعيا وأصيلا وصحيحا عليما فضلا عن تمشيه مع الأهداف الموضوعية .
 معيار الأهمية Significance
     يعتبر المحتوى مهما حينما تكون لديه قيمة في حياة التلاميذ مع تغطية الجوانب المختلفة من مجال المعرفة والقيم والمهارات التي تهتم بتنمية المهارات العقلية وأساليب تنظيم المعرفة أو الإيبابية .
معيار الميول والاهتمامات Interest
يكون المحتوى متمشيا مع إهتمامات التلاميذ في إختيار المواد التعليمية .
معيار قابلية التعليم Learn Ability
       يكون المحتوى قابلا للتعليم عند ما يراعى قدرات التلاميذ متمشيا مع الفروق الفردية بينهم تمكينا لتحقيق مبادئ التدرج فى عرض المواد التعليمية .

المعيار العالمية Universality
يعتبر المحتوى جيدا إذا كان يشمل أنماطا من التعليم لا تعترف بالح دود الجغرافية المحيطة بالبشر وبقدر ما يعكس المحتوى لصيغة محلية المجتمع ينبغى أن يربط التلاميذ بالعالم المعاصر من حوله .



2.   معايير التنظيم المواد التعليمية
وأما المعايير للتنظيم الفعال المحتوى المادة الدراسية فهناك عدة معايير رئيسية ينبغى إتخاذ القرار بشأنها عند التفكير في تنظيم محتوى المواد التعليمية جنبا إلى جنب عند التفكير في الأهداف ، وهذه المعايير هي :المجال، أو النطاق والتكامل والإستمرارية والتتابع .
المجال أو النطاقScope
وهو المعايير الذي يتعلق بماذا نعلم ، وما ستشمله المواد ما هي الأفكار الرئيسية التي تضمنه المادة ؟
نطاق المادة يتناول حدود إتساعه وعمقه ، والمجالات التي يتضمنها ، ومدى التعمق في هذه المجالات ، وما ينبغي على كل التلاميذ تعلمه ، وما يمكن أن يتعلمه بعض التلاميذ ولا يتعلمه البعض الآخر ، وما لا يجب أن يضمن منهج المدرسة .

التكامل Integration
وهو الذي يبحث في العلاقة الأفقية بين خبرات المناهج أو أجزاء المحتوى للمواد التعليمية لمساعدة المتعلم على بناء نظرة أكثر تواحدا توجه سلوكه وتعامله بفاعلية مع مشكلات الحياة.
الإستمرار Continuity
هي التكرار الرأسى للمفاهيم الرئيسية في المنهج ،فإذا كان مفهوم الطاقة مهما في العلوم فينبغي تناوله مرات ومرات في منهج العلوم ، وإذا كان الهجاء السليم مهما فمن الطبيعى الإهتمام به ، والتأكيد عليه ، وتنميته مهاراته علي إمتداد الزمان .
التتابع Sequence
هو الترتيب الذي يعرض به المحتوى علي إمتداد الزمن ، ويرتبط التتابع بالإستمرارية ، فهناك تداخل بينهما ، ولكن التتابع يذهب إلي أبعد مما تذهب إليه الإستمرارية ، فنفس المفهوم أو العنصر يمكن أن يعالج بنفس المستوى مرات ومرات ، فلا يحدث نمو في فهمه ، أو في المهارات أو الإتجاهات المرتبطة به .
أما التتابع فيعنى أن كل عنصر ينبغي أن ينبي فوق عنصر سابق له ، ويتجاوز المستوى الذى عولج به ، من حيث الإتساع والعمق ، فالتتابع لا يعني مجرد الإعادة والتكرار ، ولكنه يعنى مستويات أعلى في المعالجة .
وعند النظر في تحديد التتابع تثار أسئلة تتعلق بكل من : أولا : المبادئ التي يرتكز عليها هذا التتابع ماذا يتبع ماذا ؟ ثانيا : ولماذا بهذا الترتيب ؟ ثالثا : أنسب وقت يقدم فيه جزء معين من المحتوى للمتعلمين .[5]


قائمة المراجع
عبد الرحمن إبراهيم الفوزان وآخرون، دروس الدورات التدريسية لمعلمى اللغة العربية لغير الناطقين بها،(دون مدينة مؤسسة الوقف الإسلامى) 1323ه.
رشدى أحمد طعيمة، المراجع في تعليم اللغة العربية للناطقين بلغات أخرى،(مدينة جامعة ام القرى،دون السنة.)
محمد عبد القادر أحمد، طرق تعليم اللغة العربية،(القاهرة:مكتبة النهضة المصرية)،1979م.


[1] عبد الرحمن إبراهيم الفوزان وآخرون .دروس الدورات التدريبية لمعلمى اللغة العربية لغير الناطقين بها(الجانب النظرى)،دون مدينة،مؤسسة الوقف الإسلامى،1323 ه.ص.111.
[2] رشدي أحمد طعيمة, تعليم اللغة العربية لغير الناطقين بها, مناهجه و اساليبه, منشورات المنظمة الاسلامية للتربية و العلوم والثقافة –ايسيكو- الرباط 1989, ص. 202
[3]  محمد عبد القادر أحمد، طرق تعليم اللغة العربية،(القاهرة :مكتبة النهضة المصرية،1979م)ص 21-22.
[4] مرجع النفس, ص 66
 إبراهيم بسيونى عميرة ، مرجع سابق ص.151.[5]