Powered By Blogger

Sabtu, 24 November 2012

Hikayat Wanita yang Memerami Air Mata


 



Syahdan, seorang wanita berbibir tipis, o bukan, seorang gadis berbaju tipis, o bukan, seorang gadis yang tak lagi gadis berlari ke tepian malam dengan sekarung cemas juga air mata yang telah lama ia peram.

Dibawanya serta riwayat pesakitan, lambung kosong serta kecut kehidupan yang telah lama menganiaya usia.

Lalu, dititipkanya kebahagiaan yang serupa benalu pada desah yang meresah, cucuran keringat juga goncangan cairan tengah tubuh anak manusia; surga baginya.

Bodoh!! Apa ia tak mengenal dongeng nabi-nabi juga indahnya surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai susu? Atau perihal  kalajengking dan cacing-cacing yang menjadi teman jasad yang terpendam?

Oo bukan,
bukan hendak melumat bulat-bulat perihal siksa kubur juga api neraka, namun kisah paling darah ini hanya ia yang mampu menjamahinya. Bukan kamu, bukan kita, ataupun wanita-wanita kampung yang dari bibirnya selalu berloncatan segala cicir, segala serapah.

--Kini ia terus melangkah dengan biduk pelepah dan air mata, dengan kenangan yang terus beranak pinak, dengan ramai dosa yang menyesakki batok kepala.

Ia mulai mengemas juga mangemis cinta Pencipta, karena sejauh apapun jiwanya bertualang, dalam gelap dan dingin lubang kosonglah kelak ia akan berpulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar