Powered By Blogger

Selasa, 02 April 2013

Partai kamu apa?



Sekarang aku sudah kelas lima loh  (untuk programku rutannya adalah kelas 1 eksperiment, 3 eksperiment, kelas 5 dan terakhir kelas 6, jadi ini sudah tahun ketiga aku di pondok). Jika waktu kelas 1 eksperiment sampai 3 eksperiment  yang menyimak bacaan Al Quran kami adalah para kakak tingkat kelas 5 , 6 dan ustadzah pengabdian, maka untuk kelas 5 ini yang menyimak adalah para Ustadzah senior. 

Waktu itu kami (aku, Nila, Asyani dan Sefrida) mengaji di rumah Ustadzah Siti Amanah.  Saat itu tugas kami adalah setoran hafalan surat Yasin. Setelah satu persatu kami semi semua selesai hafalan, kami ngobrol-ngobrol ringan dengan ustadzah Siti Amanah dan suaminya, Ustadz Dalimi.  Disela-sela obrolan ringan kami waktu itu, ustadz Dalimi bertanya, 
“Antun (Kalian) kelas berapa?” Beliau bertanya kepada  kami. Ustadz dalimi saat itu memang bekerja di luar pondok, di salah satu kantor KUA di daerah di Lampung Tengah, sehingga kurang seberapa kenal dengan para santriwati.
“Kelas lima, Tadz” jawab kami hampir bersamaan.
“berarti sudah pada menjabat di OPPD ya?” beliau bertanya lagi. OPPD ini adalah singkatan dari Orgnisasi Pelajar Pondok pesantren Darussalam. Semacam OSIS gitu.
“Iya, tadz” suara kami kali ini lebih serempak, mirip kour lagu 17 agustus pas upacara peringatan hari kemerdekaan Indonseia.
“Ketua OPPD-nya siapa?” Ustadz Dalimi bertanya lagi.
“Nawang, tadz” Jawab Nila, Asyani dan Sefrida sambil menoyor-noyorkan kepalaku (noyor-noyorin kepalanya bohong. :D)
“Oh anti?” balas ustadz dalimi sembari memutarkan biji matanya ke arahku.
“Iya Tadz” Kali ini aku menjawab sendiri. Nila, Asyani dan Sefrida tidak ikut urun suara. Mungkin lagi ngemut roti yang disajikan oleh Ustadzah Siti Amanah. heheh
Setelah itu beliau memaparkan panjang lebar perihal setiap jawaban kami yang menyertakan kata “Tadz” di belakangnya. Maksud kami  sih, tadz itu kependekan dari ustadz. Misalnya namaku Nawang dipanggilnya wang aja, misalnya Nila jadi Nil, sefrida jadi Sef, Asyani  jadi Ni, Tuti jadi Tut, Lita jadi Lit, Mahmudah jadi Mudah, Masayu jadi Mas, Giring jadi Ring, Juni jadi Jun, Fadli jadi Fad, Zulpoko jadi Piko, laser jadi Ser, Risca jadi Ris, Sulis jadi Lis, Marta jadi Tha, Rindi jadi Rin, dsb (dan saya bingung) :D :D. Ya pokoknya intinya, Tadz itu kependekan dari ustadz. Gitu!!. 

Beberapa saat kemudian, angin bertiup malas, gumpalan awan menjelma gerimis, tersebar aroma khas tanah basah, air hujan mengguyur dedaunan, kelalawar berteduh di sarang, semut-semut ngerumpi sambil salam-salaman,  Ustadz Dalimi melanjutkan paparannya, “Kenapa santri-santri di sini suka sekali hanya menyertakan kata “Tadz” saat berbicara pada Ustadznya, padahal kalau kata “Tadz” tadi disertakan setelah kata-kata tertentu jadi berabe urusannya”

Kami berempat cuma senyum-senyum bingung sambil ngemut roti mendengarkan penjelasan beliau. Tak lama berselang Ustadz Dalimi melanjutkan perkataannya,

“Ya coba bayangin kalau Ustadz Tanya, ‘Kapan kalian liburnya Nak?’ kalian jawab, ‘Minggu dePANTADZ’.  ‘Orang yang akhlaknya baik itu harus gimana?’ Harus SoPANTADZ.  ‘Itu kenapa pohonnya bisa rubuh?’ ‘Ketiup angin toPANTADZ’. Partai kamu apa? PANTADZ!! Coba kalau kalian jawab dengan lengkap pasti jawabannya akan menjadi “ Minggu depan Ustadz, Sopan Ustadz, Ketiup angin Topan Ustadz, PAN Ustadz.“
Mendengar ucapan ustadz Dalimi kami semua spontan ketawa. Hahahahhahahahah... :

Allah yubarik fikum Yaa Ustadz Dalimi. Wa li jami’il asatidz wa asaatidzah fil Ma’hadidaarissalam.

Pesan: Hati-hati dengan penggunaan kata “Tadz” saat disertai kata-kata tertentu.
            Panggilah seseorang dengan panggilan yang disenanginya. Ting. :D

 Bye bye. Sampai ketemu lagi di kisah selanjutnya.  Keep Istiqomah dan selalu jaga hati. Ingat, setan itu sangat kreatif dalam menggoda hamba-hambaNya. Maka Shalatlah!! Shalatlah!!! :D


Resep Jadi Juara





Kejadian ini saat aku masih duduk di kelas satu eksperiment semsester dua di Pondok Pesantren Darussalam, Tegineneng, Lampung.  Bagi para santri di sini, salah satu kewajiban yang harus  dilaksanakan seluruh  adalah shalat wajib berjamaah di masjid. Tapi inget lho, santriwan dan santriwati  tidak shalat bersama, kecuali saat Tarawih atau shalat Iedul Adha. Makanya  masjid untuk putra dan putri dipisah. Berbeda tempat.

Setiap selesai shalat berjamaah, biasanya kami saling bersalaman, tradisi bersalaman di sini biasanya yang lebih muda mencium tangan yang lebih tua tingkat kelasnya. Jadi simpelnya, adik kelas cium tangan kakak kelas atau juga anak MTs (setingkat SMP) cium tangan ke anak Aliyah (setingkt SMA) . Eits tapi ada juga loh kakak kelas dan ustadzah yang nggak mau dicium tangannya kalau bersalaman. Nggak tau juga apa alasannya. Dari sumber yang nggak jelas asalnya, katanya alasan mereka nggak mau dicium tangannya kalau bersalaman adalah takut ilmunya berkurang karena terserap oleh orang yang mencium tangan. (haha lucu ya, tapi betulan ada loh yang kayak begini). 

Salah satu temen sekelas aku ada juga yang kalau salaman nggak mau dicium tangannya. Namanya Tika Anggraini.  Anak Pak Kades di Muara Dua, Sumatera Selatan nan jauh di sana. Anaknya cantik, taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, baik hati, tidak sombong, rela menolong, tabah,  disiplin, berani, ksatria, hemat, cermat dan bersahaja, pokoknya berjiwa ala Dhasa Dharma Pramuka banget,  anaknya juga pinter.

Nah, saat itu aku dan teman-teman yang lainnya shalat Dzuhur berjama’ah, seperti biasa, setelah shalat kami  langsung bersalaman satu sama lain. Saat saling bersalaman itu  spontan ide jailku kumat, aku menyalami Tika dengan mencium tangannya. Padahal jelas-jelas dia ini termasuk orang yang anti dicium tangannya kalau bersalaman. Hahah jelas aja reflek dia menarik tangannya dengan raut muka yang  mengekspresikan –ya-ampun-ilmu-gue-kecolong-berapa-kilo-ya?-  sambil mukanya ditekuk gitu. Aku yang merupakan tersangka utama kejadian itu Cuma senyum cengengesan penuh kemenangan. Yeaaaaaaahhh!! :D

Hal absurd yang terjadi setelah tragedi menyium tangan Tika itu adalah ketika kami semua bagi raport semester dua.  Seperti lazimnya pembagian raport, kami para murid kelas I eksperiment  satu persatu dipanggil namanya oleh wali kelas untuk mengambil raport di meja guru, termasuk aku dan juga Tika yang memang  sekelas. Saat raport sudah di tangan, dengan sangat hati-hati aku membuka raportku. Dan betapa terkejutnya ketika ada angka 2”  yang tertulis di tempat rangking. Yang artinya aku rengking dua. Huaaaa… Alhamdulillah. Meskipun bukan juara satunya, aku tetap bersyukur  banget, karena bagi aku nggak mudah bisa ‘membalap’ temen-temen di kelas ini. 

For your information, waktu semester satu kemarin aku rengking banyak banget, kalau nggak salah inget rengking 10 besar dari bawah.  Bisa dibilang bottom ten-lah. Hehehe.  Dan saat Tika tahu aku mengungguli dia (dia rengking empat atau berapa gitu kalau nggak salah), dia berfikir kalau aku bisa rengking dua berkat nyium tangan dia beberapa waktu lalu. Hahah aja aja ada.  Padahal sebetulnya waktu ulangan semester dua ini aku belajar mati-matian untuk memperbaiki nilaiku waktu semester satu kemarin yang jeblok baget. Harap maklum, pelajaran pondok yang serba Arab-Arab ini awam banget buat aku, karena SMP kemarin aku bersekolah di SMP umum yang nggak ada pelajaran Arab-Arabnya sama sekali. Jadi boleh dibilang aku mulai belajar bahasa Arab dan pelajaran-pelajaran ala pesantren ya baru di pondok ini. Sebelumnya nggak pernah sama sekali. Waktu kecil aku kalau di suruh ngaji di TPA (Tamana Pendidikan Alquran) aku selalu ogah-ogahan. Jadi istilahnya kondisiku di pesantren ini pada awalnya, kalau yang lain udah pada mahir baca tulisan Arab gundul, lain lagi bagi aku saat itu, aku baca tulisan Arab gondrong aja masih belepotan, apalagi yang gundul. Tapi  aku nggak pernah putus asa, semua di dunia ini nggak ada yang nggak bisa kalau kita mau usaha, belajar dan disertai doa. Man janda wajad duda, eh salah, maksud aku Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. 

Oya, prasangka Tika tentang aku bisa rengking karena habis nyium tangan dia ini Tika sendiri  loh yang cerita. Karena di semester berikutnya aku dan Tika jadi temen akrab.

Pesan: Kalau mau pintar, belajar aja.
            Kalau mau jadi juara, belajar banget.
            Kalau mau kenyang, makan.
            Kalau mau masuk tv, ikut program Masih di Dunia Lain di Trans 7. Olalala.. :D :D

 Bye bye. Sampai ketemu lagi di kisah selanjutnya.  Keep Istiqomah dan selalu jaga hati. Ingat, setan itu sangat kreatif dalam menggoda hamba-hambaNya. Maka Shalatlah!! Shalatlah!!! :D

Jumat, 15 Februari 2013

Kita Menikah Saja


"Aku suka, kau suka. Kamu cinta, aku juga. Ya sudah kita menikah saja"
"Tapi kita berbeda keyakinan"
"Berbeda keyakinan? Maksudmu?"
"Kamu yakin jika kamu bisa diterima oleh keluargaku, tapi aku tidak yakin jika aku bisa diterima oleh keluargamu"
"Haiiih, tolong buang kata-katamu itu, yang terpenting kita saling mencinta. Bukankah kau tahu kekuatan cinta itu dahsyat? Cinta dapat memporak-porandakan kota, cinta dapat membuat yang waras jadi gila, cinta juga yang membuat Arok menamatkan hidup Tunggal Ametung. Dahsyat bukan??!
"Tapi tidakkah aku terlalu tinggi berharap? Engkau gadis cantik jelita, sedangkan aku hanya seekor tikus rumahan. Biar kupertegas, engkau manusia dan aku hewan!”

Kamis, 03 Januari 2013

Damailah, aku ada karena kau telah tercipta.



Dalam bentangan cakrawala kau menebarkan jejak berupa bintang-bintang.  Kukumpulkan, kugenggami dan kuerami dalam doa-doa.  Biar kurangkai menjadi  Andromeda, Antlia, Microscopium,  Puppis atau rasi apa saja. Lalu akan kukembalikan padamu.  Saat itu, mari  menyulang cahaya. Untuk merayakan bersatunya raga yang seperempat abad tak pernah sua. Meski  sejatinya jiwa kita saling memeluk dalam harap dan air mata. Damailah, aku ada karena kau telah tercipta.

Sabtu, 08 Desember 2012

أني أحبك



أكرر للمرة الألف أني أحبك
 كيف تريديني أن افسر ما لا يفسر 
 وكيف تريدينني أن أقيس مساحة حبي 
 وحبي كالطفل 
 يزداد في كل يوم جمالا ويكبر

Riang Dicerai Musim






Kota ini tak lagi memeluki senyum. Riang telah dicerai musim.
Hanya lampu-lampu yang tetap cahaya, bukan kita.
Sebab pipiku telah kaucuri ronanya, kau genggami bersama riuhmu, ikut melaju ke kota tua, kota tak bernama.

Jari-jari telah sering terulur bersama aliran doa yang menembus kemurungan.
Hingga sungai-sungai hidup di pipiku, merayap ke mimpimu.
Hingga gemuruh debar di jantungku mendenyut di nadimu.
Hingga sesak nafasku terbang ke paru-parumu.
Juga lirih namamu yang kueja diam diam, sampai ke pendengaranmu.

Hatimulah tempat ternyaman untukku membagi jarak. Manalah mungkin aku berhenti mengetuki kedua belah kelopak matamu, sedang mimpiku terlanjur bermukim di keduanya. Menelurkan rindu yang berdenyut pilu, lalu kubiarkan mati dengan caranya sendiri. 

Selasa, 04 Desember 2012

SILENT WAY

METODE DIAM (الطرقة الصامته)



a. Konsep dasar sailent way
Sailent way (metode guru diam/ al- thariqah al- shamitah) dicetuskan oleh caleb Gategno (1972), seorang ahli pengajaran bahasa yang menerapkan prinsip-prinsip kognitivesme dan ilmu filsafat dalam pengajaranya. Ia mencermati konsep filsafat stevick (1979) yang di jadikanya sebagai ide dasar untuk memunculkan metode ini antara lain ;
a. Diri (the self) seseorang sama dengan tenaga yang bekerja dalam tubuhnya melalui panca indra, dan bertujuan untuk mengatur masukan-masukan dari luar. Diri itu kemudian membuang sesuatu yang di anggap tidak berguna dan menyimpan sesuatu yang di anggap merupakan bagian dari dirinya.
b. Diri seseorang itu mulai bekerja pada waktu manusia di ciptakan dalam kandungan. Sumber awal tenaga itu adalah DNA (deoxyribonucleic acid) yang merupakan dasar molekul keturunan dalam organisme-organisme manusia sehigga diri dapat mengelolah masukan-masukan dari luar, di samping itu diri menambahkan tenaga untuk menampung masukan-masukan selanjutnya.

Inilah secara umum pandangan gategno, yang mengamati hal-hal yang terjadi pada manusia secara berulang-ulang, untuk mengembangkan metode guru diam.

Selanjutnya ia melihat bahwah belajar pada hakekatnya melibatkan dua langkah;
a. Belajar adalah pekerjaan yang di sengaja dilakukan dengan sadar dan diperintah oleh kemauan yang keras (will). Hal ini di atur oleh otak yang menghasilkan aktivitas mental.
b. Belajar adalah proses mengasimilasikan hasil-hasil aktivitas mental melalui pembentukan gambaran batin (image) yang baru atau perubahan gambaran batin yang lama

Dinamakan metode guru diam karena guru lebih banyak diamnya dari pada berbicara saat proses belajar mengajar berlangsung. Namun sebenarnya tidak hanya guru yang diam, pelajarpun memiliki saat-saat diam untuk tujuan tertentu. Menurut Arsyad (2004;28) guru di mintak diam di dalam metode ini sekitar 90% dari alokasi waktu yang di pakai, tetapi ada juga saat-saat tertentu bagi pelajar untuk diam tidak membaca, tidak menghayal, tidak juga menonton video, melainkan berkonsentrasi pada bahasa asing yang baru saja di dengar. Keunikan lainya adalah penggunaan alat peraga berupa balok/tonkat kayu yang biasa disebut Cuisenaire rods, begitu juga isyarat jika diperlukan. Alat peraga ini digunakan selain sebagai media untuk mengajarkan konstruksi-konstruksi kalimat, juga untuk memperkuat konsentrasi para pelajar saat materi di sajikan. Satu materi biasanya diberikan satu kali, tudak di ulangi. Begitu materi di berikan konsentrasi di perkuat karna pelajar menyadari bahwakh tidak di ulangi. Prinsip yang di pegang adalah adanya aspek terhadap kemampuan pelajar untuk mengajarkan masalah-masalah bahasa serta kemampuan untuk mengingat informasi tanpa adanya verbilisasi dan bantuan dari guru.

Materi yang bdigunakan dalam metode guru diam ini berdasarkan struktur bahasa. Bahsa di pandang sebagai kelompok-kelompok bunyi yang di hubungkan dengan makna-makna tertentu. Dan diatur menjadi kalimat-kalimat melalui aturan-aturan bahasa. Pelajaran di sajikan secara bertahap dari unsure yang mudah ke yang sukar, sedangakan materi kosa kata dan struktur kalimat di sajikan sedikit emi sedikit sehingga menjadi unit-unit yang kecil. Unit belajar bahasa dalam metode ini adalah kalimat. Guru dalam hal ini mangajarkan satu makna dari suatu kalimat tanpa menyebutkan makna-makna lain yang mungkin terdapat dalam komunikasi sehari hari yang wajar. Para pelajar di berikan pola-pola kalimat bahasa asing dan di berikan aturan-aturan bahasa melalui proses induktif. Sebaliknya juga kosa kata mendapat tempat yang penting.

Metode guru diam memiliki tujuan pokok sebagai berikut ;
a. Melatih keterampilan para pelajar dalam menggunakan bahasa asing yang di pelajari secara lisan sehinngah mampu mencapai kelancaran berbahasa yang hampir sama dengan penutur asli.
b. Melatih keterampilan para pelajar dalam menyimak pembicaraan lawan bicara. Menyimak di pandang sebagai unsure yang cukup sulit apalagi jika bahasa itu di bawahkan oleh penutur aslih, jadi sebaikya cermat dalam menyimak.
c. Melatih pelajar agar mampu mengusai tata bahasa yang praktis. Tata bahasa diberikan dengan bertahap dengan proses induktif, dan tidak terlalu menonjolkan konsep secara verbal.

Langkah-langkah penggunaan silent way
Langkah-langkah yang bias di ambil oleh guru dalam menggunakan metode ini secara garis besarnya antara lain ;
a. Pendahuluan. Guru menyediakan alat peraga berupa; (a) papan peraga yang bertulisakan materi (fidel chart). Papan ini berisi ejajan dari semua suku kata dalam bahasa asing yang di pelajari. (b) tongkat/balok kayu (cuisenenaire rods). Tonkat yang biasanya berjumlah sepuluh dengan warna yang berbeda-beda yang nantinya di gunakan sebagai alat peraga dalam membentuk kalimat lengkap.
b. Guru menyajikan satu butir bahasa yang di pahami, penyajianya hanya satu kali saja. Dengan demikian ia memaksa para pelajar untuk menyimakdengan baik. Pada permulaan, guru pun tidak mengatakan apa-apa, tetapi hanya menunjukkan pada symbol-simbol yang tertera di papan peraga. Pelajar mengucapkan symbol yang di tunjuk guru dengan melafal dengan keras, mula-mula secara serentak. Kemudian atas petunjuk guru, satu persatu pelajar melafalkanya. Langkah ini adalah tahap permulaan.
c. Sesudah pelajar mampu mengucapkan bunyi-bunyi dalam bahasa asing yang di pelajari, guru menyajikan papan peraga yang kedua yang berisi kosa kata yang terpilih, kosa kata ini di ambil dari kalimat-kalimat yang paling sering di gunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kosa kata ini sangat berguna bagi para pelajar dalam menyusun sebuah kalimat secara mandiri, langkah ini juga masih tahap permulaan.
d. Guru menggunakan tongkat warna-warni yang trlah di sediakan untuk memancing para pelajarberbicara bahasa asing yang sedang di pelajari, pada saat ini guru mengangkat tongkat dan berkata, misalnya ;
هذا العصا ا حمر
Setelah itu guru mengangkat tongkat lain yang berlainan warna, misalnya ;
هذا العصا ا ز رق
Dengan demikian para pelajar akan terangsang untuk membuat kalimat lengkap secara lisan dengan kata-kata yang telah mereka kuasai sebelumnya. Dalam hal ini penggunaan isyarat yang palinng benar cukup penting sebagai pengganti penjelasan verbal.
e. Sebagai penutup, guru bias mengadakan pengetesan keberhasilan pelajar dalam penguasaan kosa kata yang telah di ajarkan dengan mengunakan perintah-perintah yang sedapat mungkin tidak secara verbal seperti halnya pada poin nomor 4 di atas. Dalam pengetesan ini tentu harus memperhatiakn waktu yang tersedia, tidak mungkin dengan keterbatasan waktu pengetesan dapat di berikan ke seluruh pelajar.

Kelebihan dan kekurangan silent way
Sebagaimana metode- metode lain silent way juga memiliki kelebihan dan kekurangan.
Di antara kelebihanya adalah;
a. Tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas dalam metode ini berfungsi untuk mendorong serta membentuk respon pelajar. Maka dalam hal ini kelas menjadi aktif.
b. Mendidik untuk berkonsentrasi terhap materi pelajaran juga para pelajar di tuntut untuk selslu berusaha sendiri dalam belajar.
c. Karena tidak ada pembetulan kalau ada kesalahan yang dilakukan oleh pelajar, dan tidak ada keterangan mak pelajar di dorong untuk membuat analogi-analogi sendiri dengan cara membuat kesimpulan dan rumusan aturan atuaran sendiri. Ini melatih mereka dalam membuat kesimpulan dan keputusan secara cepat.

Di antara kekurangan metode ini adalah ;
a. Silent way memberikan kebebasan kepada pelajar untuk menentukan pilihan-pilihan dalam situasi-situasi yang di sajikan. Cara ini terkesan bahwah pelajar dapat menguasai situasi belajar, namun dalm kenyataanya guru yang masih berperan aktif dalam proses belajar mengajar (teacher-centered).
b. Jika di telaah secara seksama, silent way di gunakan untuk pelajar tingkat pemula yang hanya di berikan materi-materi pelafalan suku kata dan membuat konstruksi kalimat-kalimat sederhanaya. Sedangkan membaca dan mengarang nampaknya akan sulit di ajarkan demgan metode ini.
c. Sebagaimana di jelaskan dalam konsep sailent way bertujuan membimbing para pelajar agar mencapai kelancaran berbahasa yang hampir sama dengan penutur asli, maka mereka di tuntut untuk menguasai lafal yang benar, intonasi, irama, dan jeda dalam berbicara dengan bahasa asing yang dipelajari, proses belajar mengajar yang di gariskan oleh metode ini nampaknya tidak meberi jaminan untuk mencapai tujuan tersebut.
d. Pada dasarnya sailent way pada akhirnya cenerung memiliki banyak kesamaaan dengan audiolingual, sebab bagaimanapun pelajar yang di beri materi satu kali akan sangat membutuhkan pengulangan, apalagi mereka yang baru mengenal bahasa asing yang sedang dipelajari.

DAFTAR PUSTAKA
Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 2011