Powered By Blogger

Selasa, 02 April 2013

Resep Jadi Juara





Kejadian ini saat aku masih duduk di kelas satu eksperiment semsester dua di Pondok Pesantren Darussalam, Tegineneng, Lampung.  Bagi para santri di sini, salah satu kewajiban yang harus  dilaksanakan seluruh  adalah shalat wajib berjamaah di masjid. Tapi inget lho, santriwan dan santriwati  tidak shalat bersama, kecuali saat Tarawih atau shalat Iedul Adha. Makanya  masjid untuk putra dan putri dipisah. Berbeda tempat.

Setiap selesai shalat berjamaah, biasanya kami saling bersalaman, tradisi bersalaman di sini biasanya yang lebih muda mencium tangan yang lebih tua tingkat kelasnya. Jadi simpelnya, adik kelas cium tangan kakak kelas atau juga anak MTs (setingkat SMP) cium tangan ke anak Aliyah (setingkt SMA) . Eits tapi ada juga loh kakak kelas dan ustadzah yang nggak mau dicium tangannya kalau bersalaman. Nggak tau juga apa alasannya. Dari sumber yang nggak jelas asalnya, katanya alasan mereka nggak mau dicium tangannya kalau bersalaman adalah takut ilmunya berkurang karena terserap oleh orang yang mencium tangan. (haha lucu ya, tapi betulan ada loh yang kayak begini). 

Salah satu temen sekelas aku ada juga yang kalau salaman nggak mau dicium tangannya. Namanya Tika Anggraini.  Anak Pak Kades di Muara Dua, Sumatera Selatan nan jauh di sana. Anaknya cantik, taqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, baik hati, tidak sombong, rela menolong, tabah,  disiplin, berani, ksatria, hemat, cermat dan bersahaja, pokoknya berjiwa ala Dhasa Dharma Pramuka banget,  anaknya juga pinter.

Nah, saat itu aku dan teman-teman yang lainnya shalat Dzuhur berjama’ah, seperti biasa, setelah shalat kami  langsung bersalaman satu sama lain. Saat saling bersalaman itu  spontan ide jailku kumat, aku menyalami Tika dengan mencium tangannya. Padahal jelas-jelas dia ini termasuk orang yang anti dicium tangannya kalau bersalaman. Hahah jelas aja reflek dia menarik tangannya dengan raut muka yang  mengekspresikan –ya-ampun-ilmu-gue-kecolong-berapa-kilo-ya?-  sambil mukanya ditekuk gitu. Aku yang merupakan tersangka utama kejadian itu Cuma senyum cengengesan penuh kemenangan. Yeaaaaaaahhh!! :D

Hal absurd yang terjadi setelah tragedi menyium tangan Tika itu adalah ketika kami semua bagi raport semester dua.  Seperti lazimnya pembagian raport, kami para murid kelas I eksperiment  satu persatu dipanggil namanya oleh wali kelas untuk mengambil raport di meja guru, termasuk aku dan juga Tika yang memang  sekelas. Saat raport sudah di tangan, dengan sangat hati-hati aku membuka raportku. Dan betapa terkejutnya ketika ada angka 2”  yang tertulis di tempat rangking. Yang artinya aku rengking dua. Huaaaa… Alhamdulillah. Meskipun bukan juara satunya, aku tetap bersyukur  banget, karena bagi aku nggak mudah bisa ‘membalap’ temen-temen di kelas ini. 

For your information, waktu semester satu kemarin aku rengking banyak banget, kalau nggak salah inget rengking 10 besar dari bawah.  Bisa dibilang bottom ten-lah. Hehehe.  Dan saat Tika tahu aku mengungguli dia (dia rengking empat atau berapa gitu kalau nggak salah), dia berfikir kalau aku bisa rengking dua berkat nyium tangan dia beberapa waktu lalu. Hahah aja aja ada.  Padahal sebetulnya waktu ulangan semester dua ini aku belajar mati-matian untuk memperbaiki nilaiku waktu semester satu kemarin yang jeblok baget. Harap maklum, pelajaran pondok yang serba Arab-Arab ini awam banget buat aku, karena SMP kemarin aku bersekolah di SMP umum yang nggak ada pelajaran Arab-Arabnya sama sekali. Jadi boleh dibilang aku mulai belajar bahasa Arab dan pelajaran-pelajaran ala pesantren ya baru di pondok ini. Sebelumnya nggak pernah sama sekali. Waktu kecil aku kalau di suruh ngaji di TPA (Tamana Pendidikan Alquran) aku selalu ogah-ogahan. Jadi istilahnya kondisiku di pesantren ini pada awalnya, kalau yang lain udah pada mahir baca tulisan Arab gundul, lain lagi bagi aku saat itu, aku baca tulisan Arab gondrong aja masih belepotan, apalagi yang gundul. Tapi  aku nggak pernah putus asa, semua di dunia ini nggak ada yang nggak bisa kalau kita mau usaha, belajar dan disertai doa. Man janda wajad duda, eh salah, maksud aku Man Jadda Wajada, siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. 

Oya, prasangka Tika tentang aku bisa rengking karena habis nyium tangan dia ini Tika sendiri  loh yang cerita. Karena di semester berikutnya aku dan Tika jadi temen akrab.

Pesan: Kalau mau pintar, belajar aja.
            Kalau mau jadi juara, belajar banget.
            Kalau mau kenyang, makan.
            Kalau mau masuk tv, ikut program Masih di Dunia Lain di Trans 7. Olalala.. :D :D

 Bye bye. Sampai ketemu lagi di kisah selanjutnya.  Keep Istiqomah dan selalu jaga hati. Ingat, setan itu sangat kreatif dalam menggoda hamba-hambaNya. Maka Shalatlah!! Shalatlah!!! :D

1 komentar:

  1. assalamualaikum dek punya nomer kontak PP darussalam tegineneng ga?

    BalasHapus