Powered By Blogger

Jumat, 27 Januari 2012

Rumah Bambu Mungil yang Gigil






Sering  kudengar bingar nyanyian
Melubangi telingaku yang renta
Tentangmu yang sering menabung lapar di lambung
Atau mengepal lelah, agar dapurmu tak lelah mengepul

Juga tentang mereka                                                     
Yang bergincu dan minum susu
Berlalu lalang menyesakki bola matamu yang hujan

Rumah bambumu kelewat mungil dan gigil
Untuk  diisi sembilan kepala dengan ingin yang berbeda
Lalu kau bertualang
Dari kaki ke kaki, dari sepi ke sepi
Menggali lelah dan keringat
Agar rumahmu tetap terasa hangat

Sering kau berkejaran dengan angin dan ingin
 Angin, yang menjelma garis merah di punggung setiap malam, bercampur aroma balsam.
Ingin, untuk melihat gigi-gigi di rumah bambumu tetap bisa mengunyah
Meski tumit kakimu semakin pecah dan terbelah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar