Powered By Blogger

Kamis, 24 November 2011

Wanita Tua Berwajah Tirus





Wajahnya berbentuk tirus, matanya teduh, langsat kulitnya ditutupi pucat dan sudah ditumbuhii keriput. Namun masih memiliki dengan jelas sisa-sisa  kecantikan masa mudanya. Baginya ramadhan kali ini tidak bisa seperti ramadhan yang sudah-sudah saat ia bisa dengan sesuka  hati  bertakarub dengan Sang Pemilik Hidup dalam bulan di mana pahala digandakan.  Kali ini ia harus rela berbaring tanpa daya di rumah sakit dengan selang-selang di hidung, saluran urin juga infus-infus yang mulai merajai urat-urat di tangan lemahnya. Ditambah lagi bau obat-obatan yang  membuatnya mual dan merampas selera makan.

                Sebenarnya kuat hasratnnya untuk segera pulang, mengintimi ramadhan di rumah, mengaji dan tarawih bersama teman-teman senjanya. Namun kangker di ususnya menggariskan lain, ia harus pasrah dan meredam keinginannya dengan berbaring di ranjang rumah sakit sambil menatapi petakan-petakan putih plafon yang bisu. Hanya dzikir-dzikir parau yang mampu ia persembahkan sebagai bukti kesetian seorang ‘santri’ dalam madrasah seagung Ramadhan.

                Kesebelas orang buah hatinya dengan sabar  bergiliran merawat, menunggui  serta tak lupa mendoakannya. Bahkan keempat orang anaknya yang berada di luar pulaupun segera mengajukan cuti  untuk menemui ibu mereka yang terbaring lemah di rumah sakit. Tetangga-tetangga, sanak famili dan orang-orang mengenalnyapun tak henti berdatangan menjenguknya. Membawakan segenggam doa juga sekeranjang buah-buahan yang sebenarnya tak bisa ia makan.

                Ia bebaskan retinanya melembari setiap wajah-wajah  yang  datang, namun dari sekian banyak orang yang datang dan pergi menjenguknya, tak satupun ia dapati  lelaki yang telah sekian lama mengisi bejana cintanya. Lelaki yang pernah mengucapkan ijab kabul untuknya di depan penghulu dan para saksi berpuluh-puluh tahun lalu. Lelaki yang telah memberikannya lima orang anak Lelaki dan enam orang anak perempuan yang ia lahirkan dari rahim garbanya . Lelaki yang dulu selalu menyelimuti dan menyejukkan jiwa juga raganya kala gersang melanda sebab dicerai sang cuaca. Ya, lelaki itu suaminya.

                Sekali lagi ia bebaskan retinanya, kali ini ke arah jendela yang bening tanpa debu, lalu ke   pintu berlapis bahan stenlees yang dingin dipukuli angin. Namun harapannya memudar tanpa jejak, suami yang dinantinya tak kunjung tiba. Ia kembali diam, diam dalam rindu dan cintanya. Rindu yang membuat hatinya seperti tak berada di tempatnya. Juga cinta yang membuat keriput di kulitnya semakin banyak dan berkerut. 

                Beberapa  waktu lalu memang telah terjadi konflik antara keduanya. Mungkin konflik itulah yang menyebabkan keduanya memutuskan tak lagi bertegur sapa. Suaminya lebih memilih tinggal di rumah salah seorang anak mereka dan tidak lagi pulang ke rumah. Berulang kali satu persatu anak mereka membujuk  ayah mereka untuk pulang ke rumah, namun nihil.  Ayah mereka  tetap tidak mau pulang. Hari ini salah satu dari kesebelas buah hatinya kembali bersikeras membujuk ayah mereka   untuk  datang ke  rumah sakit, berharap kedatangan ayah mereka mampu menjadi mantra bagi luka-luka yang tak kasat mata. Namun tetap tak berhasil, ternyata kangker usus yang dideritanya tak mampu mencairkan bekunya hati di diri sang suami  yang terlanjur membatu.

                Tak mau merayakan idul fitri di rumah sakit, iapun memaksa pulang ke rumah ehari sebelum lebaran. Padahal kondisinya masih lemah. Namun ia bersikeras meminta pulang. Akhirnya anak-anaknya mengijabah pemintaan ibu mereka, segala perawatan medispun dibeli dan dibawa ke rumah. Termasuk tabung oksigen, ranjang pasien, kursi roda, infuse dan entah masih banyak lagi yanglainnya. Beruntung salah satu keponakannya adalahseorang perawat di salah satu rumah sakit suwastadi Pare, jadi meskipun di rumah tapi selalu aa yang mengontrol keadaannya.

Satu syawal  akhirnya tiba. Takbir menggema di setiap sudut kampung melalui toa-toa tua. Semua cucunya kini ikut berkumpul menmaninya.  Namun lagi-lagi suami yang dirindunya tak jua tiba. Ia tetap menanti, lelah jiwanya membuat tubuhnya kosong, melompong hilang isi, hingga akhirnya fisiknya tak lagi sanggup melawan ganasnya kangker  yang  telah akut.  Lalu, bersama adzan ashar yang begitu syahdu, satu jiwa kembali ke dalam dekapan damai haribaan-Nya. Wanita  tua berwajah tirus itu kini telah meniti langkah menuju kehidupanyang lebih abadi. 

Anak dan cucunya  mendampingi  jasad  tanpa ruh yang masih belum kaku itu dengan  doa dan air mata, namun ternyata, di sudut lain tak jauh  dari rumah yang sedang berduka, ada seorang laki-laki tua yang baru terbuka hatinya sedang menuju rumah duka itu, berharap bias merenda maaf dengan istrinya yang ternyata telah tak bernyawa. 

Tak bisa kubayangkan deburan sesal yang menghantam dinding jiwa laki-laki tua itu saat mengetahui bahwa istrinya yang tiba-tiba sangat dirindunya telah berpulang dengan rindu yang juga terpendam. 

***
Ramadhan  tahun ini aku begitu sangat merindukan wanita  itu, tua berwajah tirus yang tak lain adalah nenekku, namun rinduku hanya mampu kuungkapkan dalam doa yang selalu kulangitkan. Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fuanha.” Semoga Allah mengampuninya, merahmatinya, memberikan keselamatan dan memaafkan kesalahannya. Amin Allahumma amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar