Powered By Blogger

Minggu, 20 November 2011

CALON BUPATI DAN BAYI

Oleh: Nawang Wulandari
erbit di Radar Lampung: http://radarlampung.co.id/read/opini/19944-calon-bupati-dan-bayi


PILKADA Lampung Tengah yang akan dilaksanakan 12 Agustus 2010 rupanya menjadi perbincangan di kalangan ibi-ibu jamaah pengajian. Pasalnya, para calon bupati saling berlomba memberi sedekah sebanyak-banyaknya pada jamaah pengajian ibu-ibu di Lamteng. Tak lupa anak-anak yatim, piatu, yatim piatu, dan anak-anak yang orang tuanya masih hidup namun dianggap kurang mampu pun mendapatkan santunan.  

Harapan dari sedekah ini agar doa mereka untuk memimpin kabupaten diijabah Tuhan dan diamini jamaah yang merasakan imbas dari sedekahnya itu. Cara mereka menyalurkan sedekah pun beragam. Salah satunya melalui pengajian yang ada di desa-desa. Mereka biasanya ikut mengaji bersama jamaah pengajian. Acara ikut mengaji bersama ini tentu bukan untuk seterusnya, hanya malam itu. Yang ikut mengaji bersama pun bukan calon bupati langsung. Tapi, orang yang dipercaya calon bupati untuk menyampaikan niatnya.  
Biasanya di akhir acara pengajian, orang kepercayaan calon bupati meminta waktu sedikit untuk bisa mengobrol dengan jamaah yang hadir. Mereka yang menjadi penyambung lidah calon bupati ini cerdas bicaranya, tutur katanya diatur sedemikian rupa, serta ucapannya santun dan manis. Sebagian besar jamaah yang hadir hanya menanggapinya dengan senyum dan mengangguk-anggukkan kepala. Tapi bagi pendengar yang tidak kuat akalnya, akan mengkhayal tinggi menyundul langit.  

Tak ketinggalan sebelum pulang mereka memberikan kenang-kenangan agar obrolannya tadi tetap bisa dikenang, bahkan dilaksanakan jamaah yang hadir. Hal semacam ini bukan kali pertama terjadi. Pada pemilihan-pemilihan wakil rakyat sebelumnya, modus seperti ini kerap digunakan. Jika kita mau memperhatikan lagi, di  pinggir jalan, warung kopi, warung pecel, pasar, sawah, tempat parkir umum, dan tempat-tempat umum lainnya, kita bisa menemukan lagi hasil sedekah dari calon wakil rakyat berupa kaus-kaus yang mungkin sedang dipakai penjual pecel, sayur, dan sapu lidi keliling serta penjaga WC umum, tukang becak, tukang ojek, tukang ikan, yang bergambar wajah para calon wakil rakyat di bagian punggung dan dada disertai pula nomor urut calon dan warna partai yang diusung. 

Bagi masyarakat, barang yang diberi akan dimanfaatkan. Tapi bukan berarti mereka yang memberi sudah pasti terpilih. Sebab, mereka yang diberi pun tidak pernah meminta. Perkara siapa memilih siapa itu hak individu yang tidak usah dipaksakan.

Apa jaminan yang bisa diberikan calon wakil rakyat untuk tidak korup, adil, demokratis, dan bersikap lebih manusiawi? Pastikah mereka yang memberikan kenang-kenanganakan meninggalkan atau pemelopori model kepemimpinan alternatif, yang lebih menekankan prinsip to lead yang lebih egaliter, seperti pasangan teman sederajat, dan bukan to manage yang serba mengatur, serba perintah, serba intruksi, seperti komandan terhadap anak buah? 


Pertanyaan seperti ini muncul bukan tanpa alasan, pertanyaan ini muncul di tengah-tengah suasana gundah-gulana karena tata kehidupan masih meniupkan angin kecemasan, rasa was-was dan jemu melihat tingah pejabat yang kompak dan saling melindungi dalam melakukan kejahatan yang merugikan negara. Segala corak kepalsuan dijunjung tinggi. Kejujuran dengan sendirinya ditolak. Wakil rakyat yang jujur dijauhi karena dianggap kelilip berbahaya yang tidak bisa diajak bersekongkol melakukan kejahatan kolektif.

Aparat keamanan tidak lumpuh, tapi kelihatan tak berdaya, dan hukum hanya hidup di dalam kitab-kitab di bagian paling idealis dalam jiwa masyarakat yang masih agak waras. Perpolitikan resmi di lembaga-lembaga resmi, dan diantara tokoh-tokoh resmi yang memegang kendali kekuasaan, dan kontrol atas kekuasaan terdengar hanya sayup-sayup, karena sangat sukar membedakan wajah politik dan wajah kriminalitas. Jalan politik dan jalan kriminil berhimpitan rapat, seolah sudah menjadi satu.

Ini tragedi bangsa kita, nasib rakyat ibarat anak kecil yang celingak-celinguk atau mengintip jurang yang dalam, sedang orangtuanya tidak waspada. Dan sudah tentu ini sangat berbahaya.


Siapa pun pasangan calon bupati dan wakil bupati yang terpilih, saya ucapkan selamat, bagi yang tidak terpilih jangan berkecil hati. Minimal jangan saling caci dan ribut sana-sini, karana ributnya wakil rakyat itu pakai ongkos dan ongkos yang digunakan adalah uang rakyat. Rakyat sudah tidak sanggup lagi menanggung biaya hidup yang semakin membumbung tinggi, apalagi harus ditambah membiayai pertikaian kalian yang membuat panas iklim yang pada dasarnya sudah panas dan pengap. 

    Kita perlu mengingat kembali ucapan para arif bijaksana, bahwa seribu teman masih sangat kurang, namun satu musuh sudah sangat lebih. Sesama umat beragama jangan saling sengketa, sesama politisi jangan saling membenci, apa kalian tidak mengenal dongeng nabi-nabi dan Tuhan yang maha mengasihi, yang mengajarkan kita perlunya menebar salam penghapus dengki? Nampaknya itu menjadi kata mutiara agar manusia di sini, di tanah air yang kita tinggali, terasa nyaman dan enak dihuni.

    Yang kita butuhkan adalah kerja sama. Sebab, mengemban mandat sebagai wakil rakyat itu bukan perkara mudah. Tugas tersebut maha berat. Maka kita butuh. Pertama-tama kesediaan untuk mengaku lemah, tanpa daya, seperti bayi. Otomatis kita perlu orang lain. Bayi yang baru lahir bersifat rendah hati dan tanpa prasangka, harusnya menjadi cerminan bagi kita.





T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar