Powered By Blogger

Kamis, 03 Mei 2012

ِلأَبـِي العَتَاهِيـةِ المتـوفى سنـة 213 هـ

    ِـ

أَشَدُّ الجِهَادِ جِهَـادُ الهَوَى    #      وَمَا أَكْرَمَ المَرْءِ إِلاَّ التُّقَى

وَأَخْلاَقُ ذِي الفَضْلِ مَعْرُوْفَةٌ    #      بِبَذْلِ الجَمِيْلِ وَكَفِّ الأَذَى

وَكُلُّ الفُكَـاهَةِ ممَْـلُوْلَةٌ    #      وَطُوْلُ التَعَاشُرِ فِيْهِ القِلَى

وَكُلُّ طَرِيْـفٍ لَهُ لَـذَّةٌ    #      وَكُلُّ تَالِدٍ سَرِيْعُ البِلَى

وَلاَ شَيْءَ إِلاَّ لَهُ آفَــةٌ    #      وَلاَ شَيْءَ إِلاَّ لَهُ مُنْتَهىَ

وَلَيْسَ الغِنَى نَشَبٌ فيِ يَدٍ    #      وَلَكِنَّ غِنىَ النَّفْسِ كُلُّ الغِنىَ

مِنْ كِتَابَةِ الأَدِيْبِ عَبْدِ اللهِ فِكْرِي بَاشاَ المتوفى نسة 1207 هـ


وَصَــايَةٌ لِشَـخْصٍ

رَافِعُ هَذَا الرَّقِيْمِ إِلىَ حِمَى المَقَامِ الكَرِيْمِ يَذْكُرُ أُنَّ مَسْأَلَتَهُ طَالَ فِيْهَا المَدَى وَبَقِيَ فيِ انْتِظَارِهَا عَلَى مَثَلِ رُؤُوْسِ المُدَى,
 وَيَشْكُو مِنَ الفَقْرِ المُدْقِعِ والضًّرِّ المُضْجِعِ مَا أَحْرَجَ صَدْرَهُ وَأَخْرَجَ عَنْهُ صَبْرُهُ وَأَشْرَفَ بِهِ
 عَلىَ اليَأْسِ والاِسْتِسْلاَمِ لمَِخَالَبِ البَأْسِ لَوْلاَ أَمَلَ مِنْ مَوْلاَيَ يَبْقَى عَلىَ حَوْبَائِهِ

 وَيَنْشُرُ تِذْكَارَهُ مَيْتَ رَجاَءِهِ وَلَهُ فيِ سَيِّدِي ثَنَاءً يُبَارِي نَفَحَاتِ الأَزَاهِرِ
وَيَبْقَي عَلىَ صَفَحَاتِ الدَّهْرِ الدَّاهِرِ ثُمَّ هُوَ أَوْلىَ مَنْ تَعْطَفُ عَلَيْهِ عَوَاطِفُ كَرَمِهِ
 وَتَنْعَطِفُ إِلَيْهِ جِيَادُ هِمَمِهِ, وَأَرْجُو أَنْ يحَُقِّقَ مَوْلاَيَ فيِ تِلْكَ الشِّيَمِ الكَرِيْمَةِ
 مَا أَمَّلَهُ وَأُهْدِي مِنَ الثَّنَاءِ أَتَمَّهُ وَأَكْمَلَهُ.

مِنْ شِعْرِهَـا تُخَاطِبُ المـَرْأَةَ المِصْرِيَّةَ


سِيْرِيْ كَسَيــْرِ السُّحُبِ

لاَتَأْنَيْ وَلاَ تَتَعَجَّليِ

لاَ تَكْنُسِي أَرْضَ الشَّوَارِعِ 

بِالإِزَارِ المُسْــبَلِ


أَمَّا السَفُوْرُ فَحُكــْمُهُ 

فيِ الشَّرْعِ لَيْسَ بمُِعْضَلٍ

ذَهَبَ الأَئِمَّــةُ 

بَيـْنَ مُحَـرَّمٍ وَمُحَلِّل

يَجُوْزُ بِالإِجْمـَاعِ 

عِنْـدَ قَصْدِ تـَأَهُّـلٍ

لَيْسَ النِّقَاُب هُوَ الحِجَابُ

فَقَصِّـرِي أَوْ طَوِّلِـي

فَإِذَا جَهَلْتَ الفَرْقَ 

فَدُوْنَـكِ فَاسْأَلـِي
مِنْ بَعْضِ أََقْوَالِ الأَئِمَّةِ

 لاَ مَجَـالَ لِمَـقُوْلِي

لاَ أَبْتَغِي غَيْرَ الفَضِيْ


لِلنِّسَــاءِ فاَجْمَ

رِسَـالَةُ كَتَبَـتْهَا بَاحِثَةُ البَـادِيَةِ المتوفى سنة 37 هـ


مِنْ رَمْلِ الإِسْكَنـْدَرِيَّةِ لِصَدِيْقَةٍ لــهَاَ

عَزِيـْزَتيِ السَيــِّدَةُ بَلْسَم:
أُحَيِّيْكَ  لَوْلاَ بُرُوْدَةُ البَحْرِ لاَلْتَهَبْتُ إِلَيْكِ شَوْقًا وَلَوْلاَ تَصَبُّرِي لَطِرْتُ إِلَيْكِ حُبًّا, وَإِنيِّ لَمْ يُنْسِنِي صَفَاءُ السَمَاءِ صَفَاءَ وُدُّكِ, وَلاَرِقَّةُ النَسِيْمِ رِقَّةَ حَدِيْثِكِ, أَنَّهُ شَجاَنيِ وَذَكَرَنيِ وَلَمْ أَكُنْ ناَسِيَةً.
 
حَبِيْبَـتيِ:
لَيْتَكِ مَعيِ تَرَيْنَ الطَبِيْعَةَ بجَِمَاِلهَا تَرَيْنَ البَحْرَ يَزْخَرُ كَالرَعْدِ, وَالأَمْواَجَ تَتَلاَطَمُ زَرَافَاتٍ وَوِحْدَانًا, صَفَاءٌ فيِ البَحْرِ وَصَفَاءٌ فِي السَّمَاءِ كَأَنَّهَا قَلْبُنَا, تَسْمَعِيْنَ تَغْرِيْدَ الطُّيُوْرِ وَحَفِيْفََ الأَشْجَاِر إِنَّهاَ لَعَمْرُكِ مَناظِرُ تُلْهيِ المَرْءَ, وَلَكْنَّ هَيْهَاتَ لِمَيْليِ أَنْ تَلْهُو وَهِيَ تَعْلَمُ مَايُكِنُّهُ الدَهْرُ وَماَيُخْبِئُهُ اللَّيْلُ وَالنَّهاَرِ. تَقَبَّليِ مِنِّي أَحَرَّ قُبُلاَتِي وَأَوْفَرَ أَشْوَاقِي.

Kamis, 23 Februari 2012

Berjanjilah untuk Selalu Menjaga Nyala Baranya





Untuk Adikku tersayang
Dalam pengarungan samudra asa.

Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuhu..

            Adikku sayang, bagaimana kabarmu di sana? Semoga selalu dalam buaian kasih-Nya. Hamdan lillah nikmat sehat-Nya masih memayungi kakak di sini. Dan semoga kucuran Rahman-Nya tak pernah henti mengaliri jiwa-jiwa kita dan keluarga. (Aaamin Yaa Mujibassailiin)

            Surat yang kau layangkan sudah kakak terima. Telah kakak baca dengan seksama. Sebenarnya apa yang membuatmu rendah diri, dik? Mengapa semangatmu menjadi layu seperti bunga bakung yang kekurangan cahaya matahari dan zat bergizi? Apa karena tatapan mereka yang memandangmu sebelah mata hanya karna kau anak seorang nelayan di pesisir pantai dan dari ibu buruh cuci?

            Kakak bukan hendak menyalahkanmu, namun apakah kau tak bangga terlahir dari benih cinta manusia yang berjiwa mulia seperti Abah dan Emak? Beliau memang tidak membekali kita dengan tumpukkan pakaian mewah dan berbagai alat  teknologi canggih yang kini mereka banggakan di depanmu. Namun Beliau justru memberi kita sesuatu yang tak kan bisa tergadai oleh dolar.

Sejak usia kita dini mereka telah mengenalkan kita pada Sang Pemilik Hidup. Yang harus kita “temui” lima kali sehari. Bahkan di sepertiga malam kala banyak anak manusia yang masih lena dalam lelapnya. Ataupun memohon rezeki agung lewat Duha-Nya. Perlu kau ingat sayang, rezeki itu tak hanya berwujud uang, kesehatan dan keharmonisan juga wujud dari rezeki yang jangan tak kau perhitungan. Dari Abah dan Emak pulalah kita temukan mulianya semangat hidup, Dalam harinya, beliau bahkan tak sempat mengeja lelah. Tetap ikhlas berpeluh, demi kita pendar jiwanya.

Masih ingatkah kau saat ribuan kebahagiaan menjamahi jiwamu setahun yang lalu?? Saat kau lolos seleksi hingga beasiswa mengantarkanmu mengenyam pendidikan ke pulau seberang. Saat itu Abah dan Emak larut dalam zikir. Menyenandungkan syukur pada Dia yang tak pernah tidur.

Esoknya, kita dapati kedua kambing abah sudah tak menghuni kandangnya. Ternyata abah menjualnya. Demi memberimu uang saku agar kau tak terlantar di sana. Padahal kita tahu, beasiswamu telah menjamin semua keperluanmu, termasuk masalah uang saku. Tapi itulah abah, selalu rela mengorbankan apa yang dipunya.

Tak beda pula Emak, beberapa malam sebelum kau pergi memintal mimpi, Emak selalu menemani tidurmu. Seperti takut bentangan jarak akan mencipta rindu. Itulah Emak, tulus kasihnya tak lekang oleh waktu. Dan untuk semua itu nikmat Tuhan mana lagi yang akan kau dustakan, sayang?

Dan dari semua yang mereka beri, relakah kau biarkan semangatmu layu? Tak inginkah kau mengusap peluh mereka dengan segudang prestasi? Menghadirkan sungging senyum di bibir mereka dengan keberhasilan yang kita bawa.  Kakakpun di sini terus berjuang, mempersembahkan pelangi bahagia pada Abah dan Emak yang semakin senja. Hadirkan lagi api semangat itu, sayang. Jadikan kobarannya menjilat-jilat melahap rasa rendah dirimu menjadi abu tanpa sisa

Mungkin sampai di sini dulu kita dapat berjabat pena. Lain waktu kita rangkai lagi kata indah sebagai pengobat rindu. Semoga apa yang kakak sampaikan dapat menyalakan lagi api semangatmu. Dan berjanjilah untuk selalu menjaga nyala baranya.



Dari kakakmu yang selalu merindu,
Wang Shabara Zafira.

(Dinobatkan sebagai juara 1 terbaik dalam event menulis surat fiksi di grup SYS)

Selasa, 21 Februari 2012

Martabak Telur dan Semangkuk Bubur



Pagi ini aku membuatkanmu bubur ayam. Kutakar satu gelas beras, lalu memasaknya dalam teflon dengan air yang agak banyak. Tak lupa juga kububuhi sedikit garam dan merica bubuk. Aku sengaja tidak menggunakan santan, karena kamu lebih suka seperti ini. Oya, kamu juga tidak suka buburnya diberi daun bawang. Terasa langu katamu.

Sambil menunggu air buburnya menyusut, aku merebus beberapa potong ayam yang sudah dibumbui bawang putih, bawang merah juga garam, yang kemudian jika ayamnya sudah empuk, akan langsung kugoreng, kusuwir dan kutaburkan bersama bawang goreng ke atas bubur. Dan kaldu ayam ini yang akan menjadi kuahnya. Sesekali aku melongok ke arahmu yang sedang tidur di sofa depan tv, memastikan kamu baik-baik saja.

***

Saat akan membangunkanmu sebelum subuh tadi, aku dikejutkan oleh suhu badanmu yang panas. Sontak kurabai kening, pipi juga lehermu dengan punggung tanganku. Masya Allah, kamu demam. Buru-buru aku ke ruang tengah, menuju kotak obat lalu mengambil termometer kemudian menaruhnya di lipatan ketiakmu. Garis pada termometer itu mengarah hampir ke angka 38 derajat celcius. Aku langsung bergegas ke dapur, mengambil air dingin dan handuk kecil untuk mengompresmu.

Kemarin sore, setelah mengisi training kepenulisan, kamu memang pulang ke rumah dalam keadaan kuyup. Ternyata kamu nekat  menerobos hujan demi membelikan martabak telur kesukaanku. Dan kamu lihat hasilnya,  pagi ini kamu jadi demam tinggi.  Kalau kamu sakit biasanya cerewetku pasti akan keluar, “Sayang, tidak harus dengan menerobos hujan juga kan? Kamu juga tidak harus selalu membawakanku oleh-oleh setiap pulang dari manapun, karena kalau kamu sakit akulah perempuan yang paling nelangsa, hatiku juga pasti akan ikut meriang, dan bla bla bla”

Jika cerewetku keluar seperti itu, kamu hanya akan menanggapinya dengan tersenyum lalu menyilangkan telunjukmu di bibirku, seketika itu pula cerewetku langsung berhenti. Pada jeda berikutnya aku langsung meminta maaf karena telah cerewet kepadamu. Kamu hanya tersenyum lagi, “ Itu bukan cerewet namanya, tapi itu cinta Bunda” Katamu lembut. Jika sudah seperti itu aku akan menghambur ke pelukmu, dan malah menangis.

***

Aku kini duduk di sebelahmu dan kamu masih terlelap di atas sofa depan tv. Pelan pelan aku mengambil handuk kompres di keningmu yang sudah menjadi panas, kucelupkan lagi ke dalam air dingin, memerasnya dan menaruhnya kembali di keningmu, namun  kamu malah jadi terbangun.

Saat membuka mata dan melihatku ada di sampingmu, kamu langsung melemparkan senyum, aku segera membalas senyummu dan  menawarkan bubur yang kubuat tadi. Kamu menerima tawaranku, maka segera kuambil semangkuk lalu menyuapimu perlahan. Tak butuh waktu lama untuk menjadikan semangkuk bubur itu tandas.

Setelah itu kamu memilih meringkuk lagi di atas sofa dan meminta tidur di pangkuanku. Dengan senang hati kupersilahkan pahaku menggantikan bantalmu. Sayang, taukah kamu? Dalam tidurmu aku tak berhenti merapal doa untuk kesembuhanmu, Belahan jiwaku.

بِسْمِ اللهِ نَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ مِنْ شَرِّ كُلِّ عِرْقٍ نَعّاَرٍ وَمِنْ شَرِّ حَرِّ النّاَرِ

Dengan menyebut nama Allah, kami memohon perlindungan kepada Allah SWT, Yang maha agung dari peluh (keringat) yang mengganggu, dan dari panas nya api.

Senin, 20 Februari 2012

Ini Tentang Cara Kita saat Membangunkan Tidur





Ini tentang cara kita saat membangunkan tidur. Biasanya aku yang akan bangun lebih awal daripada kamu, tapi tak jarang juga kamu yang bangun terlebih dahulu daripada aku. Biasanya kamu sengaja bangun setelah tengah malam untuk menuangkan ide-idemu ke dalam tulisan, lalu mengirimkannya ke salah satu media keesokan harinya, hobi yang memang telah menemanimu jauh sebelum kamu memintaku menjadi belahan jiwamu dan aku menerimanya. Lalu beberapa menit menjelang subuh kamu akan membangunkanku, bersama-sama melaksanakan amalan yang memang kita niatkan untuk terus konsisten melakukannya setiap hari jika tidak ada halangan; tahajud dan tilawah bersama hingga adzan Subuh. Sebagai salah satu ikhtiar kita agar biduk rumah tangga yang kita jalani selalu berlimpah sakinah, mawaddah dan bertabur rahmah.

Seperti kali ini misalnya, setelah menyelesaikan tulisanmu, kamu membangunkanku lembut, mendekatkan bibirmu ke telingaku, membisikkanku sesuatu yang akan membuatku terbangun, namun kalau aku tetap juga tidak terbangun, biasanya kamu akan menggelitik atau menciumiku bertubi-tubi sampai aku terbangun. Kadang aku memang sengaja tidak membuka mata saat kamu berbisik membangunkanku, walaupun sebenarnya bisikanmu itu sudah bisa membangunkanku. Hihihi.. kamu jangan marah ya? Alasanku, karena aku menunggu untuk kamu cium.  

Aku juga punya cara untuk membangunkan tidurmu, biasanya setelah berwudlu aku akan menempelkan tanganku ke pipimu, dinginnya tanganku akan merambati pori-pori kulitmu dan memerintahkan syaraf untuk membuka matamu. Namun jika cara ini belum berhasil, kukeluarkan jurusku selanjutnya, yaitu  membuat secangkir hot chocolate dan mendekatkan aromanya ke hidungmu. Biasanya cara ini cukup ampuh, karena kamu memang penggemar hot chocolate. Tapi, jika cara ini juga belum berhasil, maka aku ikuti caramu membangunkanku, yaitu menggelitik atau menciumimu bertubi-tubi. Jika sudah begini, kamu tidak mungkin lagi melanjutkan lelapmu.

Oya, katamu dengan menempelkan tanganku ke pipimu setelah berwudhu atau mendekatkan aroma hot chocolate ke hidungmu, sebenarnya itu sudah bisa membangunkan tidurmu. Kamu memang sengaja bermanja-manja tidak mau bangun. Dan rupanya alasanmu sama juga dengan alasanku, yaitu karena kamu menunggu untuk aku cium. Hihihi..

Ah suamiku, aku mencintaimu, terimakasih telah bersedia membersamaiku, menjadi imam dalam shalat-shalat kehidupanku.